Malam ini semua warga kampung berkumpul di masjid RT (gabungan RT 13, 14 & 15) desa Kecapi. Masing-masing ibu datang membawa makanan semampunya dan seikhlasnya. Rata-rata membawa nasi plus lauk. Warga yang mampu membawa serta ingkung ayam. Beberapa lagi membawa makanan kecil yang mudah dibeli. Termasuk saya, yang bawa jajan saja. Tadi ikut kelas (daring) berbagi parenting IIP Jepara di Perpusda sampai sore, dan sudah janji ke Bu RT akan menghias tumpeng untuk acara utama.

 

Kami sepakat membuat tasyakuran RT karena jalan di RT kami baru saja selesai diaspal. Kami ingin jalanan beraspal kami awet, membawa berkah dan semua pelintas-yang dilintasi aman dan nyaman. Acara syukuran digelar di halaman masjid. Di desa, masjid memang masih menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Tasyakuran RT seperti ini sudah beberapa kali digelar di RT kami. Memang masih guyup. Budaya jagong dan ngopi pagi di warkop Mbok Suminah masih lestari. Malam pun kadang masih ngopi lagi di sana sambil membicarakan urusan kampung atau sekadar cerita ngalor-ngidul. Warkop berusia 20 sekian tahun ini salah satu harta karun RT. Baru di sini ada warung kopi yang ‘didemo’ jika tutup lebaran melebihi 3 hari. Sudah sangat membudaya.

Ketika membicarakan tasyakuran, kopi, kampung, dan tumpeng, rasanya sulit dikaitkan dengan matematika. Tapi jika tahu kronologisnya, tetap bisa masuk. Karena matematika memang ada di sekitar kita. Membaur dengan harmonis.

 

Saat menghias tumpeng, tentu wajar jika membayangkan dahulu, bagaimana cara menatanya. Semua lauk disusun sedemikian rupa agar rapi dan menarik. Di sinilah matematika berperan. Terutama prosentase atau bilangan pecahan.

Sebelum menghias tumpeng, saya hitung jumlah lauk yang disiapkan Bu RT. Dalam imaji, tumpeng saya bagi dua, lalu mulai susun lauk sesuai bayangan saya. Hal ini penting agar hiasan tampak rapi. Maka, saat jadi, Tasha langsung berkomentar, “Lho… kok seperti dibagi dua?”

Nah.. ketemu kan di mana matematikanya?

 

Dulu saat saya masih suka membuat kue dan Loyang saya bulat, saya beberapa kali demontrasi memotong kue dengan membagi dua, lalu membagi empat, potong lagi sehingga menjadi delapan, dan akhirnya enam belas potong. Semua roti jadi terpotong dengan rapid an ukuran sama, lalu siap dibagi ke tetangga. saat memotong, dua anak saya kadang ikut duduk dan dengan wajah menahan keinginan ingin segera memakan bagiannya, akan memperhatikan pisau saya menari-nari di atas roti. Saya (yang cerewet) akan menjelaskan ke anak, proses pemotongan dan nama bagian per bagian. Jadi, anak tidak kaget mengapa angka 1 menjadi ½ (dan disebut 0,5) dan seterusnya. Kalau menurut saya, mengasuh anak memang harus mau banyak bicara, banyak menerangkan, dan banyak membuat kegiatan yang menarik bagi anak. Apakah Aybund setuju?

Nah… seperti itulah anak saya belajar matematika. Sealami mungkin dan jadikan bagian dari hidup. Itu juga mungkin sebabnya, anak – anak kami sangat suka matematika. Karena mereka bisa melogikannya dalam bentuk keseharian.

Bagaimana cerita Aybund membersamai anak belajar matematika hari ini? Share yuk…