Anak Belajar Bersosialisasi di Dunia Digital melalui Facebook

by | Jul 14, 2018 | IIP, Keluarga Multimedia, KuliahBunsay, Literasi Gawai, Review, Tantangan 10 Hari | 10 comments

Kami termasuk keluarga yang mengenalkan anak pada Facebook sejak kecil. Kami tak bisa menghindari diri dari pengaruh media sosial ini. Dan, anak adalah peniru yang sangat ahli. Mereka akan penasaran dan meminta ikut ‘memainkannya. Padahal, seperti media sosial lain, tak semua hal baik ada di sini. Banyak pengguna media sosial yang tidak bijak berkata dan membagi informasi. Maka, Facebook pun kami pakai sebagai media belajar bersosialisasi bagi anak. Kami tidak mengklaim kebenarannya, ini adalah cara yang telah disesuaikan dengan value keluarga kami.

Kami telah terdaftar di Facebook sejak tahun 2007, namun karena kurang paham, dan saat itu kurang seru, kami melupakannya. Pada tahun 2008, seorang teman mengenalkan pada games online Mafia Wars. Jadilah saya dan suami kembali membuat akun Facebook yang kami gunakan sampai sekarang. Bisa dibayangkan, dong, Ayah Bunda yang bermain games, anaknya seperti apa. Hehehe.

Tapi, kehidupan selalu berubah, seiring dengan pemahaman dan pelajaran baru. Kami sudah lama sekali tidak bermain games Mafia Wars. Kalau tidak salah hanya dua tahun. Anak-anak kami izinkan pinjam-main games Facebook dengan pengawasan. Alasannya sederhana saja, dibandingkan situs games online di luar, games di Facebook lebih aman dan filternya lebih banyak. Setidaknya, terjangan pornografi dan konten kekerasan bisa diminimalisir. Mulai tahun 2015, kami mengizinkan mereka mempunyai Facebook sendiri dengan pengawasan. Ada beberapa rambu yang kami terapkan dan harus mereka sepakati. Di antaranya:
1. Kami punya akses 100% pada akun mereka
2. Berhak membuka chat & history serta merevisi ‘kesalahan’ yang mungkin mereka lakukan.
3. Boleh menyortir teman dan grup yan diikuti
4. Boleh melarang games tertentu

Aturan ini selain sebagai benteng pertahanan, juga untuk memantau adab mereka seama bergaul di dunia maya. AyBund mungkin termasuk yan prihatin dengan Tiktok, Bowo dan Fans beratnya yang kecil-kecil tak beretika dalam berkomentar. Nah, inilah salah satu bentuk pencegahan saya dan cara saya mengajarkan etika bermedia sosial, etika menulis, dan cara berpikir logis namun tetap ketimuran.

Cara ini mungkin tidak sesuai dengan value keluarga AyBund, sehingga saya tidak menganjurkan dilakukan. Pada prinsipnya, kepercayaan dan kelekatan keluarga, ibu dan anak adalah kuncinya. Anak takkan mau privasi Facebook-nya diketahui orangtuanya, jika 2 bekal tersebut tak ada. Sejak dulu saya selalu memastikan anak menangkap pesan, “Orangtuamu lebih hebat dan selalu upgrade ilmu per-online-an, dan selalu beberapa langkah lebih maju.”

Pesan ini perlu dibumikan. Anak-anak saya sudah biasa melihat ibunya gabung bermain games dengan mereka. Kadang saya memainkan games yang sama, tapi harus lebih hebat. Cara itu ampuh untuk membuat mereka selalu berada di jalur yang kami siapkan. Dalam informasi pun demikian. Seperti 2 minggu lalu, saat Destin bertanya tentang Agama Bowo. Saya tak tahu apa-apa, tapi membalikkan tanya untuk tahu sejauh mana pengetahuan mereka sebelum menjawab. Jika saya blank atau buta informasi, saya akan menjawab secara umum. Jawaban yang memang mereka cari. Setelah diskusi usai, saya baru Googling. Jika ada kekeliruan jawaban atau tambahan, pada malamnya, kami akan berdiskusi kembali. Jadi anak memiliki informasi dari ibunya sendiri. Dalam keluarga Susindra, sang ayah memang tipe yang kurang pandai menjelaskan dan jawabannya, seperti kecenderungan para ayah lain, adalah pendek-pendek dan tidak informatif.

Mungkin AyBund punya media lain untuk mengajarkan anak bersosialisasi di dunia digital yang tak mungkin dihindarkan dari anak ini? Yuk dibagi di sini agar kita bisa sama-sama belajar