Buku-Buku Digital Literasi yang 100% Gratis

by | Jul 15, 2018 | Keluarga Multimedia, KuliahBunsay, Literasi Gawai, Review, Tantangan 10 Hari, Tips Bagus | 0 comments

Alangkah senangnya jika punya buku-buku tentang digital literasi, ya. Aybund pastilah merasakan urgenitas memiliki buku-buku ini karena beberapa kejadian anak-anak menulis tentang sesuatu yang sangat menakutkan di beberapa media. Saya termasuk ibu yang sibuk menjawab apa itu “agama Bowo”, “bagaimana cara Bowo mendapatkan uang”, “kenapa membayar untuk foto dengan Bowo”, dan seputar dunia Tik Tok yang menarik minat anak-anak pra remaja saya. Bukan minat punya aplikasi ini atau terlibat di dalamnya, tapi kenapa bisa begitu.

“Agama Bowo… mungkinkah ada agama semacam itu dan bagaimana bisa terjadi” adalah titik kritis mereka. Anak-anak pra remaja saya itu melihat apa yang terjadi di dunia digital begitu wow dan memukau. DAN MEREKA INGIN MEMPUNYAI UANG TAMBAHAN DARI DUNIA DIGITAL seperti Bowo. Secara logika, wajar jika anak melihat kemudahan dan gelimang harta pada ‘teman’ seusia memantik semangat. Di sinilah peran saya sebagai orangtua yang harus jeli dan bisa pelan-pelan memasukkan value keluarga dan etika tak boleh berbenturan dengan mimpi yang sedang mereka rangkai.

Baca: Anak Belajar Bersosialisasi di Dunia Digital melalui Facebook

Masuk dunia digital, siapa yang belum masuk ke dunia digital? Putra saya sudah berada di sana sejak kecil. Sudah punya Facebook entah sejak tahun kapan saya lupa, karena saat itu saya membolehkan mereka bermain game, dan Facebook menjadi salah satu penyedia games online yang aman versi saya dan suami. Tentu dengan aturan ketat yaitu hanya untuk games, penerimaan teman harus seizin kami, hak pantau akun 100% (kami boleh membukanya malam hari untuk mengecek aktivitas mereka, termasuk inbox dan grup) dan tak boleh menulis status atau menulis hal/kata kasar di sana.

Bagaimana pun kami menyadari bahwa dunia digital, sebagaimana dunia nyata, diakses dan digunakan oleh semua jenis manusia. Orang-orang jahat bisa menggunakan wajah asli atau berkedok. Dan itu sangat mengkhawatirkan. Terlebih, otak logika anak baru tersambung 100% di usia 25 tahun. Jadi, anak baik pun bisa ikut-ikutan menulis hal buruk karena tak menyadari apa yang ia lakukan. Contoh ternyata adalah kasus komentar anak-anak tanggung berbau kencur yang mendewakan sosok Bowo. Saya terkejut dengan perubahan batas malu anak-anak usia SMP yang menyatakan mau diper**sa Bowo, yang mau menjual harta termahalnya demi… dan bahkan mau menjual ibu/neneknya untuk Bowo. Di sinilah, peran orangtua sangat diperlukan. Namun orangtua saja tidaklah cukup. Sekolah, pemerintah, dan lingkungan harus membentuk kolaborasi yang indah. Perlu lebih banyak buku-buku digital literasi yang dapat dibaca anak. Dan mau tak mau, buku digital menjadi salah satu media membaca favorit mereka.

31 Januari 2018 lalu, beberapa stakeholder yang bekerja sama dalam pembentukan situs penyedia buku-buku digital literasi. Mereka telah lama merasa prihatin dengan pertumbuhan angka pengguna internet, yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dasar. Ada 137 juta pengguna internet, 50%-nya adalah digital native, yang masuk tanpa persiapan, karena orangtuanya pun tak punya persiapan. Mereka menceburkan diri di dunia ini dan tersesat bersama. Beberapa di antara mereka melupakan kesantunan beretika. Maka, belasan series buku literasi digita untuk semua umur ini diharapkan dapat menambah pengetahuan semua pengguna internet. Mari kita manfaatkan bersama-sama. Silakan mengakses Literasi Digita ID dan bebas baca/unduh serta bagi ke masyarakat lainnya. Jika di HP sudah ada Google Drive, file akan terunduh di sana tanpa membebani penyimpanan/storage HP.

Baca: Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Kita orangtua sebagai generasi X, Y, atau Z, mungkin bisa mengatakan bahwa buku riil lebih nyaman. Bau buku lebh sedap. Mata lebih sehat. Posisi membaca bisa nyaman. Tapi anak-anak generasi Z yang kita lahirkan bukanlah makhluk yang sama. Mereka penghuni asli dunia digital, yang dengan sendirinya lebih nyaman dengan segala bentuk digital. Maka, situs LITERASI DIGITAL bisa menjadi solusi bagi mereka (dan kita Ayah Bundanya). Ada beberapa puluh buku tentang digital literasi yang dapat dipilih, diunduh dan dibaca. Semuanya gratis. Situs ini tidak hanya untuk anak-anak, karena ebook siap unduh juga untuk semua usia. Buku-buku dari penerbit mayor didigitalkan untuk kita belajar bersama. Beberapa buku ini bisa kita beli versi cetaknya di toko buku. Asyik, kan? Tunggu apalagi.