Aku Suka Matematika!

Bicara matematika, saya termasuk ibu yang sangat beruntung. Kedua putra saya suka matematika dan menjadikannya pelajaran FAVORIT. Kebalikan dari saya yang tidak suka matematika,

Saya tidak suka matematika. Cenderung menghindari sebisa mungkin dengan berbagai alasan. Saya tidak suka, tidak suka, dan tidak suka. Saat SMA kelas tiga, saya merasa bebas karena tak ada pelajaran ini – meski 3 bulan sebelum ujian diberi les (tambahan) karena ternyata ada tes matematika di UAN. Bayangkan rasa saya saat itu, dipaksa pulang sore untuk pelajaran yang tak ada di jadwal, dan pelajaran itu tidak saya sukai. Dan bat Susierna harus tahu, bahwa saudari kembar saya suka banget dengan pelajaran matematika. Dia emah di pelajaran berbahasa asing – yang saya sangat bagus di situ.

Weits… saya memberi energi negative tatkala hendak melukiskan rasa suka hati.

Saya masih sering terkagum-kagum dengan kemampuan DnB Susindra (Nama alias Destin dan Binbin, anak saya). Kedunya mudah memahami rumus matematika dan bias mengerjakannya dengan senang hati. Jika diminta bebas memilih belajar apa, pilihan utama selalu jatuh ke pelajaran ini. Bahkan jika besok tak ada matematika. Jadi… saya belikan saja buku matematika, selain buku dari sekolah. Terkhusus Binbin yang juga suka belajar bahasa Inggris, saya tambahkan buku pelajaran kesukaannya.

Bisa bayangkan rasa suka hati saya?

Ruth Champagne, Ph.D seorang guru sekaligus ahli matematika dari barat berkata, bahwa orangtua – terutama ibu – memiliki andil yang sangat besar dalam membuat anak suka atau tidak suka matematika. Setidaknya, mereka memiliki andil membentuk perasaan negatif dalam diri anak saat menghadapi matematika.

Saat orangtua tanpa sadar menyatakan ketidakmampuannya menguasai mata pelajaran matematika, bisa jadi anak akan diserbu rasa cemas dan takut jika ia mengalami ketidakmampuan yang sama. Dari sinilah ‘dosa turunan’ dimulai. Anak jadi merasa tidak suka matematika Karena sosok teladannya begitu.

Pertanyaan menggelitik saya adalah,

Jika saya tidak suka matematika, mengapa anak saya maah suka?

Hmm….
Mari ngunjuk kopi sebelum membahasnya.
Alasan saya tidak suka matematika adalah karena saya lamban dalam memahami rumus yang diberikan guru. Saya juga sering mengalami keraguan, benarkah hasil perkalian saya benar? Juga, karena saya tidak tahu ada cara penghitungan perkalian yang asyik. Setahu saya, matematika = menghapal hasil perkalian dan saya tidak suka menghapal secara membuta.

Berbeda dengan suami yang lebih beruntung, mengenal beberapa rumus singkat dan perkalian menggunakan jari sehingga tak perlu repot menghapal. Dan yang jelas, matematika adalah pelajaran favorit suami.

Sekarang sudah tahu kan dua rahasianya?

Meski papanya anak-anak sangat suka matematika, belum tentu anak serta-merta menyukai juga. Rupa-rupanya ada beberapa tindakan kami yang membumikan matematika. Membahasakan matematika dalam kehidupan sehari-hari saat anak-anak masih berada di masa emas. Misalnya:

1. mengajak anak menghitung jumah motor yang lewat sambil menunggu papanya pulang.
2. Di mana pun, bahkan saat ke brak kerja pengrajin, saya selalu menemukan balok-balok kecil untuk berhitung.
3. Menumpuk balok (limbah potongan mebel) menjadi salah satu permainan favorit anak-anak, dan media belajar berhitung.
4. Membuat kue bersama lalu memotong menjadi dua, empat, delapan, dan enam belas secara bertahap untuk mengenalkan pecahan.
5. Menghitung jumlah mangga yang tumbuh di kebun

Dan masih banyak lagi. Membumikan matematika ini, menjadikannya bagian dari hidup anak bias membuat mereka mencintai matematika. Sederhana, ya.

 

Mengapa saya tiba-tiba menulis ini?

 

Karena si bungsu membutuhkan bantuan mengerjakan matematika. Meski saya tak selalu bisa membantu mengerjakan soal kelas IV SD, tetapi menemaninya belajar bisa menjadi support yang sangat berharga. Yup… menemani di sebelahnya saja. Akan lebih baik jika plus membuatkan camilan. Waaah…. TERBAIK!

Tak susah mencetak ahli matematika di rumah. Apakah Bunda setuju?

 

Semua gambar foto pinjam dari pixabay