Tips Menjawab Pertanyaan Anak yang Menyerempet

“Mama, artis yang itu sih, Ma, kok mau ya jadi pelakor?’
“Papa, kenapa Kamboja kejam sekali pada pengungsi Rohingya?”
“Ma, ML itu apa?”
“Kapan aku punya anak?”
(ilustrasi maya)

 

Akan tiba masa ketika anak bertanya topik berat setelah mendengar percakapan orang dewasa tentang suatu topik tertentu seperti suasana politik dan lainnya. Apalagi jika informasi tersebut didapatkan dari kedua orangtuanya.

Sudah lazim kiranya, jika pasutri banyak berdiskusi. Duduk santai, bersama kopi dan camilan sederhana. Percakapan ngalor ngidul, mulai dari kegiatan anak di rumah, pekerjaan hari ini, berita si X, sampai isu hangat tentang ‘Papa dan mobil Pajero’, misalnya.

Adakalanya orang tua lupa bahwa ada anak kecil di sekitarnya yang memiliki otak mirip spons, menyerap apapun informasi. Nyaris tanpa filter. Tentu saja, penyerapan disesuaikan usia dan kemampuan otak. Usia 0-24 bulan misalnya, semua informasi diserap 100% masuk ke bawah sadar. Usia di atasnya, saringan informasi mulai terbentuk perlahan, seiring dengan datangnya kemampuan baru, yaitu BERIMAJINASI. Namun jangan bayangkan seperti otak anak usia belasan tahun. Belum.

Saya ingat, di usia TK, Destin dan Binbin bertanya tentang banyak hal – sebagian besar sangat mengejutkan dan membuat takjub, sebagian lagi sulit saya jawab sehingga meminta tempo. Jangan anggap berat karena semua orangtua mendapatkan jatah pertanyaan, sesuai penyerapan informasi anaknya.

Sebelum terjadi peristiwa bersejarah semacam ini, yuk cermati tips menjawab pertanyaan sulit anak yang saya sarikan dari berbagai sumber, kulwap dan video parenting. Saya tidak menuliskan di sini karena saya ganti dengan kalimat dan pemahaman saya sendiri.

1. Jangan menanggapi pertanyaan anak dengan jawaban negatif apalagi melarangnya. Ibarat topik diskusi sudah digelar, pemateri harus bisa menjawab sesuai kemampuan. Jawablah dengan memperhatikan tips di bagian bawah tentang Cara menjawab pertanyaan sulit anak’ ng selanjutnya.

2. Jangan menghindar, apalagi jika apa yang ditanyakan anak pernah kita lakukan. Jika memang tidak siap, bisa meminta tempo ke anak beberapa menit dengan dalih menyelesaikan pekerjaan penting yang dikerjakan sekarang.

3. Tanyai anak (bukan menginterogasi), seberapa dalam informasi yang dia ketahui. Jawaban anak bisa menjadi permulaan menjawab, dan seberapa banyak informasi yang bisa diberikan dan diklarifikasikan.

4. Jawab dengan jujur, jangan membohonginya. Jawaban jujur membuat anak percaya pada kita sebagai sumber informasi. Jangan sampai ia mencari sosok lain untuk menjawab keingintahuannya.

5. Jawab dengan ringkas, padat, tanpa memberi celah pada pertanyaan besar lainnya. Misalnya, “ML? Itu singkatan bahasa Inggris, make love. Make = membuat, love = cinta.”

6. Sabar dalam menajawab pertanyaan anak yang mungkin akan susul menyusul.

7. Jangan bosan jika ditanyakan secara berulang. Mengulang mungkin lebih menguatkan jawaban atau klarifikasi kembali jika ada penjelasan yang masih abstrak atau masih kurang.

sumber foto pixabay.com

Berbicara tentang isu berat sebenarnya menjadi bagian yang menyatu dalam proses mendidik anak. Tak perlu ditakuti atau dihindari. Jika ternyata belum, bisa membuat pencegahan. Misalnya saat menonton TV bersama dan ada iklan yang tidak bagus atau cerita sinetron favorit yang tidak mendidik– meskipun seharusnya kita tahu, bahwa sebaiknya tidak menonton TV bersama anak, apalagi sinetron.
1. Mulai sejak dini. Tanamkan pendidikan moral pada anak sesuai usianya. Jelaskan nilai moral yang dianut keluarga agar anak hapal dan paham. Mulailah sejak berusia 2 atau 3 tahun.
2. Memancing rasa ingin tahu anak. Beberapa isu memang harus dikenalkan, terutama yang berada di sekitar kita. Adakalanya anak tidak terlihat tertarik dengan suatu isu, padahal ia perlu tahu.
3. Buka peluang anak bertanya kapan saja. Buat anak percaya bahwa kita sumber informasi yang tepat dan bisa dipercaya. Hal ini menjadi sangat penting karena hanya kita yang paham, nilai keluarga apa yang kita ciptakan. Akan sangat berbahaya jika anak mencari informasi ‘penting’ dari sosok lain yang mungkin salah menjawab tetapi dipercayai anak.

Nah…
Ayah, Bunda… ternyata penting sekali bagi kita untuk menjadi sumber berita bagi anak. Dan penting sekali untuk menjawab pertanyaan anak dengan ringkas, padat, dan informatif sesuai usianya. Tentu kita perlu berlatih dan menyiapkan jawaban yang tepat. Mungkin lain waktu saya bisa menuliskan contoh pertanyaan dan jawaban yang sesuai usia. Tidak 100% benar karena saya juga masih belajar menjadi orangtua yang tepat bagi anak.