Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

by | Jul 6, 2018 | Keluarga Multimedia, Literasi Gawai | 9 comments

Bagaimana rasanya memiliki seluruh buku dalam genggaman? Woaa… syurga di dunia! Berasa seperti bepergian ke seluruh pelosok bumi dan mempelajarinya. Tapi, saat ini, saya hanya baru bisa membaca jutaan buku dari hampir seluruh dunia, yang telah dimasukkan ke dalam dunia digital. Alhamdulillah. Saya sangat terbantu sekali dalam mencari literatur yang saya butuhkan sebagai peneliti sejarah awam yang masih pemula. Yuhui… bisa dikatakan, itu salah satu profesi saya setelah mengikuti pelatihan kompetensi kesejarahan untuk peserta non kesejarahan.

Sumber foto: Pixabay by Mysticsartdesign

Sebelumnya, saya mau membagi sedikit kebahagiaan, ah…

Ih! Lebay banget!

Bunsay Level 12!

Yeay…. Bahagianya…. Itu artinya, selangkah lagi menuju akhir dari perkuliahan selama 1 tahun pertama di Institut Ibu Profesional. Materi kali ini adalah KELUARGA MULTIMEDIA. Dan yang lebih istimewa adalah, pada materi ke dua belas ini, saya tak lagi, saya bisa praktik untuk diri sendiri.

Seberapa penting bercerita tentang diri sendiri dibandingkan anak-anak?

Ah, berbahagialah para ibu dan ayah yang memiliki anak yang nyaman dikisahkan di dunia digital. Kedua putra saya marah, jika kisah mereka dibaca orang lain. Mereka ingin tetap berada di zona privasi mereka. Jangankan dikisahkan, untuk foto kenangan keluarga pun, saya harus membujuk dan meminta dengan sangat. Kecenderungan ini sebenarnya agak mirip dengan saya di zaman dahulu. Hanya mirip saja, tidak sama. Saya takut difoto. Takut hasilnya jelek. Tak tahu artinya foto pribadi. Ya… semacam itulah. Dan ketika anak-anak tak mau difoto, saya hanya bisa mengelus dada.

Nah, Tantangan 10 hari untuk Keluarga Digital kali ini adalah mencari aplikasi belajar dan mereviewnya. Ada banyak aplikasi yang saya gunakan untuk belajar atau mempermudah hidup saya. Meski telah berusia cukup untuk dipanggil Bunda oleh anak-anak muda, tapi saya tak gaptek-gaptek amat, dan sangat menikmati manfaat yang ditawarkan internet. Untuk memasak, saya ada aplikasi sendiri. Memantau kehamilan (uhuk… saya sedang hamil juga), ada aplikasinya. Mengatur keuangan pun ada. Juga aplikasi desain yang memang saya pakai dan pelajari untuk mengembangkan minat (saya tak berani menyebutnya bakat). Bahkan, kala senggang, saya punya aplikasi games belajar Bahasa asing.

Untuk tantangan pertama ini, saya ingin mereview aplikasi yang saya sering pakai harian, yaitu: E-RESOURCES PNRI!

Untuk mengaksesnya, AyBund bisa membuka http://e-resources.perpusnas.go.id/. Ikuti saja cara daftarnya ya! Mudah, kok. Dan sangat cepat. Mendaftar di sini juga berarti memiliki kartu anggota perpustakaan nasional. Saya bisa pinjam buku ke Perpustakaan di Jakarta.

Yang paling saya sukai adalah akses membuka buku digital seluruh dunia. Untuk buku di Indonesia, saya paka aplikasi Ipusnas yang lebih nyaman karena bukunya berbentuk ebook utuh. Kapan-kapan saya review lagi.

Nah… inilah mengapa saya membutuhkan aplikasi ini, yaitu akses ke perpustakaan digital dunia:

1. Alexander Street Press
2. Alexander Street Video
3. Balai Pustaka

4. Brill Online
5. Cambridge University Press
6. Cengage Learning
7. Ebrary
8. Ebsco Host
9. IGI Global 19. Science Direct (NEW)
10. [NELITI] Repositori Studi Kebijakan Indonesia11. Indonesia Heritage Digital Library
12. Digital Angkasa
13. Lexis Nexis
14. Myilibrary
15. Proquest
16. Sage Knowledge
17. Taylor & Francis
18. Carano Pustaka Universitas Andalas
20. Britannica Library (NEW)
21. IG Publishing
(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training & Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)
22. Westlaw (NEW)

 

Selamat Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia!