Saya bukan ahli matematika. Saya bahkan termasuk golongan yang sudah kliyengan dulu jika diajak membahas matematika. Saat anak meminta bantuan mengerjakan soal matematika, reaksi pertama saya adalah, “Papa… bisa membantu? Please?”

Keengganan saya dengan pelajaran matematika sudah terlihat sejak anak memasuki kelas 3. Soal di buku dan LKS terlalu sulit. Begitu pendapat saya. Bahkan, beberapa kali saya membagi soal kelas 4 yang menurut saya melampaui usia. Lalu, teman-teman saya akan menjawab dengan sabar dan memberi rumus. Senangnya memiliki teman-teman baik di facebook.

Meski saya tak suka pelajaran matemtika, melipir cantik jika dimintai tolong membantu anak mengerjakan soal, tetapi saya sering bermain games matematika. Saya tahu anak-anak saya menyukainya. Mereka sangat terbiasa dengan matematika di kehidupan sehari-hari dan kami bersenang-senang dengannya. Matematika ala saya sangat sederhana dan saya sudah membaginya:
1. Bermain dakon
2. Menghitung berbahasa Inggris saat memijat kaki
3. Bermain sundamanda
4. Cara saya mencetak ahli matematika
5. Matematika di sekitar anak
6. Ada matematika di tumpeng
7. Pre-Math Games dengan Jam

Permainan-permainan sederhana – permainah prematematika- membuat anak menyadari bahwa matematika adalah bagian dari hidup, sehingga tak hanya terbiasa, anak-anak pun akan suka,

 

Mengapa saya menggunakan games untuk membumikan matematika? Alasannya sederhana saja. Manusia adalah Homo Luden. Mereka suka bermain. Bermain membuat proses belajar menjadi mudah. Dan semua menyukainya. Alhamdulillah, sejak sekolah, Destin dan Binbin selalu memilih belajar matematika jika saya beri opsi boleh belajar yang mereka sukai. Nilai-nilai mereka pun termasuk tinggi.

Karena mereka sudah berusia 9 dan 13 tahun, sudah saatnya mengajarkan mereka cerdas finansial juga. Tema ini juga masuk dalam rencana membumikan matematika.
1. Menetapkan uang saku yang pas untuk anak
2. Mengajarkan si kecil mengelola uang saku
3. Mengajarkan nilai uang dengan games sederhana

 

Tiba-tiba, saya ingat cerita Munif Chatib tentang putrinya Bela. Penulis kecil ini pernah terindikasi hambatan diskalkulia karena trauma dengan matematika. Gurunya melabeli bodoh ketika mendapat nilai 40. Seram, ya. Ini adalah tragedi yang menyedihkan. Dan penyebabnya adalah, karena guru/sekolah memisahkan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Contoh soal cerita seperti:

 

Lebih baik daripada soal yang hanya berupa angka:

Bukankah lebih asyik jika matematika dibahasakan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga anak lebih mudah memahami?

Yuk Kita membumikan matematika, mulai dari rumah.