Pentingnya Mengajarkan Nilai Uang Pada Anak Sejak Dini Melalui Games Sederhana

Malam yang biasa banget di rumah Susindra. Kami berempat duduk di ruang depan yang kami pakai tuk kegiatan sehari-hari. Rumah kami memang tidak besar. Hanya 2 kamar tidur, 1 dapur dan satu ruang depan yang agak luas untuk kegiatan apapun.

Di rumah kami tak ada TV. Hiburan – jika dianggap demikian – adalah satu laptop tuk bergantian dan Android. Untuk anak-anak, ada sebuah tablet khusus bagi mereka untuk bermain game, belajar, berselancar dan belajar memakai media sosial. Ingat ini tiba-tiba ingat pengen bikin tulisan khusus tentang anak dan gadget. hehehe

Malam yang sangat biasa. Berempat memegang gawai masing-masing atau sedang mengerjakan PR. Terkadang kami melakukan forum komunikasi keluarga yang sederhana, sekadar bercerita bergantian. Yang terakhir ini agak jarang. Kesempatan kami benar-benar berempat hanya di malam hari. Tiba-tiba saya ingin mengajarkan anak tentang nilai uang.

Mengetahui nilai uang itu sangat penting. Karena anak-anak tak mungkin dihindarkan dari uang. Memberi mereka uang tanpa mengetahui nilainya juga sangat berbahaya. Banyak kan anak yang menangis kejer karena meminta uang? Atau saat diajak ke toko tiba-tiba meminta suatu benda yang harganya sangat mahal?

Beberapa dari AyBund mungkin akan berdalih bahwa uang masih bisa dicari, tetapi anak lebih utama. Maafkan saya jika tidak sependapat dan snedikit memberikan warning akan bahaya selalu menuruti keinginan anak tanpa mengajarkannya nilai angka yang tertera dalam label harga dan berapa peluh yang harus AyBund tebus untuk uang tersebut. Padahal, sejak usia 2 tahun anak sudah bisa pelan-pelan diajarkan tentang hal ini. Tentu saja menggunakan logika anak batita. Jadi, jika saya mengajarkan nilai uang pada Binbin di usia 9 tahun, sudah hampir terlambat, kan?

Jangan khawatir, ini salah satu bagian dari menjawab Tantangan 10 hari kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Saya sudah mengajarkannya dari kecil meski mungkin tak seintensif ini. Karena ditulis di blog, harus punya landasan teori agar bisa dicoba AyBund di rumah bersama anak.

Saya punya 2 pendapat tentang bahaya tidak mengajarkan nilai uang pada anak, yaitu:
1. Anak jadi konsumen yang buruk.
Disebut demikian karena kecenderungan berbelanja secara impulsif. Belanja setiap kali ingin atau melihat sesuatu yang menarik, tanpa memandang sedang butuh atau tidak. Terkadang hanya diletakkan begitu saja tanpa disentuh setelah sampai rumah. Jika ada uang, mungkin tantangannya tidak sebesar jika punya sedikit uang. Khawatirnya jika tak ada pengerem, sementara keinginan berbelanja terlanjur diliarkan, anak bisa bertindak nekat.
2. Mengambil uang yang bukan haknya.
Saya pernah mengalami hal ini. Anak tetangga yang sangat-sangat kaya mencuri uang Rp 100.000,- dalam dompet yang saya taruh dengan teledor di atas meja depan. Ketika saya berlari tuk mengambil dompet dan membukanya di situ lalu bertanya, “Ada yang lihat uang seratus ribu Mama?”, si anak melempar uang tersebut ke sudut dan pamit pulang. Antara senang dan prihatin.

Mengajarkan nilai uang bisa membuat anak lebih realistis dalam membelanjakan uang saku atau uang upah bekerjanya. Mereka juga bisa membedakan uang saku dan uang jajan. Saya sudah menulisnya di artikel Menetapkan uang saku yang paling pas buat anak  dan mengajarkan si kecil mengelola uang saku.

Cara mengajarkan nilai uang untuk anak kecil:
1. Bermain tebak harga. Missal,
Mas Destin membeli es tebu 4 porsi. Ia menyodorkan yang Rp 20.000,- dan diberi kembalian Rp 8000,-. Berapa harga es tebu per porsi?

2. Bermain matematika dengan soal yang realistis. Misal:
Mama ke pasar membeli satu kilo telur seharga Rp 18.000,- dan satu kilo jeruk seharga Rp 15.000,-. Satu kilo telur ayam berjumlah 15 butir sedangkan satu kilo jeruk berjumlah 8 butir. Mana yang lebih mahal?

3. Berbelanja sendiri.
Anak diberi uang Rp 10.000 (nominal bisa sangat berbeda), bebaskan anak membeli sesuatu yang sangat dia butuhkan atau membeli sesuatu yang sangat dia inginkan dan memintanya menjelaskan apa yang dia rasakan ketika memilih salah satu.

4. Memberi upah untuk beberapa ‘pekerjaan’ atau ‘kebaikan’ tertentu yang disepakati. Misalnya membantu menyiangi rumput atau menyiram tanaman. Antar anak berbelanja dengan uang upah yang didapatkannya.

5. Permainan simulasi nilai uang.
Tempel uang Rp 10.000 di kertas HVS/kertas buku. Di bawah uang beri tulisan berupa pilihan:

  1. Membeli sesuatu yang dia inginkan
  2. Membeli sesuatu yang sangat ia butuhkan
  3. Membeli sesuatu yang disukai sekeluarga
  4. Menyimpan uang di celengan/tabungan
  5. Memberikan ke pengemis di pasar
  6. Memberikan ke teman yang sedang sangat sedih karena kehilangan
  7. Menyumbang ke bencana yang terjadi di sekitar.
    Minta anak mengurutkan mana tindakan yang dia ambil terlebih dahulu dan penjelasannya. Setelah itu jelaskan mana urutan yang paling sesuai

Sebenarnya masih banyak cara mengajarkan anak mengenal nilai uang. Silakan di-ATM dan dikembangkan. Semoga anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalekha dan senantiasa bersyukur dengan apapun miliknya, dan terutama sangat menghargai nilai uang. aamiiin