#ThinkCreative: Think Out of The Box

by | Mar 30, 2018 | IIP, KuliahBunsay, Level 9, Ortu Sersan, Tantangan 10 Hari, Think Creative | 1 comment

Wah, agak lama saya tidak mengisi kategori Think Creative, ya. Jadi kagok setelah berhari-hari tidak menulis. Makanya, tuk malam hari ini, saya menulis tentang #ThinkCreative: Think Out of The Box saja. Membahas konsep dulu agar matang praktiknya. Praktik Kuliah Bunda Sayang Game Level 10.
Lha… ini kan tugas observasi? Harusnya harian, kan?
Yah… mungkin itu juga pertanyaan teman-teman. Boleh percaya (tapi tak boleh tidak percaya) bahwa kami itu keluarga otak kanan. Saya dan suami terbiasa membuat desain atau benda-benda kreatif, dan memang jadi pekerjaan harian. Saya penulis, suami pembuat mebel. Hahahaha… eh tapi kami sama-sama suka membuat desain gambar, membuat kriya tangan, dan khusus suami, ditambah skill bermain musik yang lumayan tuk usianya. Jadi, fix, ya… kami keluarga berkesenian.

Ternyata… anak kami Destin juga dominan otak kanan. Dia pandai membuat kriya tangan juga. Dan menurut pengakuannya, hasilnya bikin iri teman. Hmm… saya selalu percaya pada hal/cerita baik anak. Kalau di keseharian pun tidak memalukan. Hanya saja, tulisannya itu lho… sama parahnya dengan ibunya.

Destin, ketika kecil sangat suka menggambar. Dan gambarnya….. wow!

Bukan saking bagusnya, tapi saking banyaknya corat-coret. Ia akan membuat satu gambar dasar. Lalu, gambar tersebut akan memiliki cerita sampai tamat. Dan semua cerita digambar. Jadi… kelihatan semrawut. Tapi jika diminta merekonstruksi, ia akan melakukan dan mengisahkannya dengan baik. Ia pandai bercerita dan sudah cukup bagus cara menulisnya. Alhamdulillah ada bakat menulis yang turun dari ibunya. Semoga ia kelak lebih baik daripada saya.

Nah.. itu sekilas tentang kami, keluarga otak kanan.
Sekarang saya ingin menulis tentang apa itu Think Out of The Box dan mengapa diperlukan. Ayah Bunda bisa mencobanya. Tentu saja, setelah belajar mengubah pola pikir terlebih dahulu.
Ayah Bunda tentu maklum, dan mungkin menyadari bahwa sejak dulu kita tinggak di dalam kotak-kotak. Sejak lahir, tanpa sadar orangtua membatasi kita dalam kotak bernama rumah dan status. Ketika sekolah, kita ternyata masuk ke dalam kotak yang lain. Saat belajar pun, dengan dalih lebih mudah dipahami, para peserta didik dikenalkan pada mata pelajaran demi mata pelajaran. Intinya… kita tak bisa lepas dari satu box ke box lain. Itulah hidup.
Lalu… apa sih think out of the box itu? Apa maksudnya berpikir di luar kotak? Maksudnya adalah berpikir dengan cara yang tidak biasa. Berpikir kreatif, lebih tepatnya. Orang lain mungkin melihat orang ini sebagai orang yang aneh, suka coba-coba, sering menghasilkan gagasan baru. Berbeda banget dengan mereka yang lebih senang berada di dalam box. Mereka biasanya nyaman menjadi follower.
Menjadi menarik ketika kita (dan anak kita) bisa berpikir keluar kotak. Dan tokoh yang paling saya ingat adalah Einstein! Saya ingat benar kalimat Einstein yang paling terkenal, yaitu:

Insanity is doing the same thing over and over again.

Apakah kita melakukannya juga?
Kak Arry Rahmawan pernah menuliskan tentang berpikir out of the box. Dan saya mendapatkan wow moment saat membacanya.. Ia berpendapat bahwa setelah era globalisasi, sekarang era konsep. Tingginya pendidikan sudah bukan zaman lagi. Rasanya, hal itu sudah lama diamini. Nah, saat ini, di zaman konsep ini, modal utama adalah kreativitas menciptakan ide. Semua orang, tanpa terkecuali, memiliki peluang yang sama untuk sukses dan hebat. Dan peluang tersebut akan dapat diraih oleh mereka yang memiliki konsep yang terbaik atau konsep yang unik namun muncul pertama kali sekalipun itu bukan konsep terbaik..

Aakah Ayah Bunda sudah siap menyambut era konsep ini? Mari belajar berpikir di luar kotak. Sebelum itu, cobalah ubah pola pikir Ayah Bunda terlebih dahulu. 

Mari belajar #ThinkCreative: Think Out ofThe Box.