#ThinkCreative: Ubah Pola Pikir, Ubah dunia

Halo Ayah Bunda… Kreativitas apa yang dibuat anak hari ini?

Alangkah bahagianya memiliki putra-putri. Mereka terlihat paling ganteng dan cantik. Mereka jadi kebanggaan kita. Wanginya lebih nyandu daripada apapun di dunia. Peluk, cium,….

Mereka makhluk paling mudah membuat ayah bundanya tertawa. Begitu lugu. Sampai terkadang jauh melebihi pemikiran kita. MasyaAllah indahnya menemani anak-anak ketika kecil.

Bukankah begitu?

Coba pandang tubuh mungilnya yang sedang terlelap. Terlupa sudah, semua payah kita bekerja. Terlupa sudah, kegaduhan yang ia buat. Rumah berantakan telah menjadi rapi. Kelelahan menjawab pertanyaan yang tak habis-habis mulai menipis. Rengekan yang memusingkan 30 menit lalu terasa jauh.

Anakku tersayang…

Rasanya dunia begitu sempurna dengan kehadiranmu.

Ubah pola pikirmu untuk mengubah hidupmu
Change your mind, change your world

Perasaan di atas, banyak dirasakan oleh orangtua yang berhasil menemukan pola kreativitas anak dan mensyukurinya. Mengapa saya berkata demikian? Karena ada banyak ayah dan bunda yang sering mengeluhkan anaknya nakal, untuk sesuatu yang sebenarnya normal.

Anak-anak, sebenarnya sama seperti orang dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Mereka sudah jadi seseorang. Mereka somebody who have desire. Jangan karena mereka masih muat di ketek kita lalu dikatakan masih bayi.

Tetangga saya, memiliki anak berusia 13 bulan. Orangtua dan kakek-neneknya sering kelepasan mengucapkan ‘nakal’. Sebut saja namanya Raja. Ia sering berteriak ketika menginginkan sesuatu. Ia juga selalu berteriak jika mainannya dipinjam sesama batita. Jika bisa berbicara, ia akan mengatakan, “INI MILIKKU!”

Bukankah lazim jika di usia berapa pun, kita takkan dengan teramat mudah membagi semua hal dengan orang lain?
Kemudian, ada pula kisah anak balita mematahkan lipstik baru bundanya. Apakah ia nakal? Ia hanya tak tahu jika sebelum memasukkan penutup lipstik, harus memutar rol dahulu. Atau…. Seperti anak laki-laki saya ketika usia 2 tahun, yang suatu hari sedemikian jenak bermain di pojok, dan ternyata mencoba bedak dan lipstik ibunya.

Tak ada yang salah di situ. Ia belum paham konsep hakiki laki-laki vs perempuan. Ia hanya anak kreatif. Daaan… sampai di usia hampir 10 tahun ini, saya harus banyak-banyak ikhlas karena proses kreatifnya masih berlangsung. Benda yang menarik hatinya akan dipakai bermain. Ia membuat eksperimen bahan apa saja yang direndam dalam botol. Tugas saya adalah sweeping botol aneka warna di kamarnya, hasil eksperimen. Hahahaha….. Mungkin saya punya seorang calon ilmuwan. Begitu pikir saya.

AyBund, mengapa saya bisa berpikir seperti itu?
Karena selalu ada alasan di setiap perilaku anak. Mereka makhluk pembelajar. mereka punya rasa ingin tahu yang sedemikian besar. Melebihi kita.

Mengapa?

Karena kita yang dahulunya sekreatif mereka, telah digiring ke dalam kotak tanpa tahu ada yang lebih luas di luar sana. Saya ingat guru menggambar saya (dan anak-anak mengalami juga di sekolah) mengarahkan, gunung berbentuk segitiga berwarna biru, awan berwarna putih, daun berwarna hijau, apel berwarna merah, dan lain-lain. Dan, dari entah kapan sampai kapan, gambar anak TK dan SD selalu ada pemandangan gunungnya. Selalu.

Saya tidak bermaksud mengatakan para guru TK/SD salah. MasyaAllah, beliau semua adalah orang-orang hebat yang sangat berjasa bagi semua umat manusia yang menjadi muridnya. Sodaqoh yang tak terputus. Saya hanya ingin menuliskan,

Ubah Pola Pikir, Ubah Dunia.

Biarkan anak keluar dari kotak yang disusun setara. Karena penemu takkan memiliki cara berpikir sama. Seorang calon penemu akan belajar melalui temuannya sendiri. Dan penemu… akan mengubah dunia. InsyaAllah.

Yuk, Ayah dan Bunda,
Kita coba keluar dari kotak yang menjadi dunia tinggal selama ini. Bebaskan diri .

To really be free, you need to be free in the mind (Alexander Loutsis)