Sebagai bagian dari keluarga multimedia, kami, suami istri Susindra tak bisa mencegah anak-anak masuk ke dalam dunia maya atau dunia digital. Sejak mereka baru lahir pun jejak mereka sudah ada di data kependudukan yang dititipkan pula di dunia digital. Apalagi, melihat kedua orangtuanya berada di dunia yang gemerlap ini. Maka yang dapat kami lakukan adalah menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya.

Pada kisah sebelumnya, saya berkisah tentang bagaimana kami mengedukasi anak dalam bersosialisasi di dunia maya melalui Facebook. Kami menetapkan batasan-batasan. Tak hanya itu,, perjanjian online pun kami berlakukan. Bagaimanapun, saya menganggap cara ini lebih lentur dan mengikuti zaman.

Nah, di posting sebelumnya tentang Buku Digital Literasi pun, saya telah memberitahu tentang akses memiliki beberapa puluh buku digital mengenai literasi digital secara gratis. Nah, saya tertarik memasukkan salah satu isi buku Seri Literasi Digital berjudul INTERNET SEHAT: Pedoman Berinternet Aman, Nyaman, dan Bertanggungjawab karya Relawan TIK bernomor ISBN 987-602-51324-1-4. Buku ini dijual di toko buku dan telah digitalkan secara resmi untuk semua kalangan. Kali ini saya membuat mengambil intisarinya saja dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak saya.

Ada 7 tips menjaga anak tetap aman di dunia maya yang dapat kita praktikkan bersama, yaitu:

1. Masuklah ke dunia online mereka. Keterlibatan orangtua di dunia online anak sangat penting, seperti layaknya orangtua harus mengenal teman bermain anak dan lingkup gerak mereka.
2. Buat aturan. Tak ada kebebasan tanpa batas, meskipun dunia online memang tanpa batas. Justru karena itulah, maka orangtua perlu membuat batas yang jelas. Buat aturan bersama yang dipasang di dekat tempat anak mengakses internet.
3. Ajarkan tentang privasi di dunia maya. Mengajarkan privasi membuat anak tahu batas informasi yang dapat dibagi. Ajarkan anak untuk:
a. Tidak memberikan data pribadi: foto, nama lengkap, nomor telpon, alamat email, alamat rumah, alamat sekolah, dan privasi lainnya.
b. Tidak membuka email/inbox orang yang tidak dikenal.
c. Segera laporkan ke orangtua jika ada pesan yang mengganggu
d. Menolak bertemu teman yang belum dikenal
4. Area online anak haruslah di tempat terbuka di dalam rumah. Kami melarang keras anak membuka HP dan laptop di kamar, agar tetap dapat memantau aktivitas mereka.
5. Menjadi sahabat online anak. Saya selalu siap membantu anak menapaki dunia maya dan menggandeng mereka agar tidak tersesat di belantaranya. Anak yang tahu bahwa orangtuanya adalah sahabatnya baik di dunia nyata maupun maya, akan lebih percaya diri dan santun dalam menjalani kedua kehidupan ini.
6. Setting gawai ke mode pencarian aman. Setiap perangkat sebenarnya telah memiliki penyaring. Kita tinggal mengaktifkan saja mode pencarian amannya. Tetapi untuk berjaga-jaga, saya tetap memantau aktivitas online anak dan mengajarkannya agar tidak scroll ke bawah tetapi kreatif bertanya jika belum mendapatkan jawabannya.
7. Kenali situs dan aplikasi yang aman untuk usianya. Ini sangat penting. Bisa dikatakan, saya tak pernah mau tertinggal dari anak, untuk urusan peronlinenan. Mereka mengakses apa, saya harus punya jawaban dan sanggahan jika ternyata tidak cocok. Saya selalu mengupgrade diri agar anak tidak tersesat. Menjadi cahaya harus bisa tahu jalan di depan agar tidak menyesatkan. Bukankah begitu?

Nah… itulah beberapa tips dari saya dan buku Internet sehat untuk AyBund yang memiliki keluarga multimedia namun masih khawatir mencemplungkan diri dan keluarga ke dalam dunia maya. Mengenali medan adalah salah satu tips aman menjaga anak tetap aman di dunia maya. Karena internet aman dan nyaman bagi anak adalah sebuah keniscayaan.