Bangga Menjadi Ibu

Bangga menjadi ibu, inilah yang kurasakan ketika pertama kali memandang wajah bayi mungil nan elok yang baru saja lahir. Ia berada di rahim selama 9 bulan dan memilih hari lahir pada tanggal 5 Syawal. Pengalaman luar biasa melahirkan untuk pertama kali tiba-tiba seperti sebuah pendewasaan.

bangga jadi ibu

Perasaan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dari sehari lalu memberi efek luar biasa. Bagi orang-orang sekitar, aku masih perempuan muda berusia 24 tahun. It’s ok. Bagiku saat itu, sakit di saat melahirkan adalah api penyucian yang mengantarkan dari remaja menjadi dewasa. Aku merasa bangga menjadi ibu.

Benarkah demikian?

Catatan ibu (bahagia) yang tak sempura

Kehidupan berumah tangga sedemikian kompleks sehingga perasaan itu harus saya pertahankan dengan daya juang tinggi agar semangat menjadi ibu rumah tangga tidak padam. Lalu saya belajar seni menjadi ibu yang bahagia dalam kondisi apapun. Maka blog Catatan Ibu yang Tak Sempurna ini lahir.

Peristiwa di atas sudah melampaui waktu 17,5 tahun. Bayi itu sudah sekolah kelas XII. Sudah lama berlalu. Tapi, rasanya masih teringat. Dan memang sengaja diingat. Biarlah menjadi artikel perdana setelah 3 tahun mengabaikan blog ini. Lalu, siapa anak yang difoto itu? Aha! Dia pendatang paling baru di rumah kami. Saya melahirkannya di usia 40 tahun.

Banyak kisah sehari-hari dari rumah yang bisa dimaknai dengan kata. Jika tidak, semuanya akan terlupakan oleh waktu dan susul menyusul kisah yang terjadi. Aku sedemikian ingin membaginya di sebuah blog dary. Untuk berbagi pengalaman sekaligus sebagai tetenger bagi kami. Mungikin bisa jadi bahan sinau bagi pembaca Catatan Susierna. Atau bisa disebut sebagai Catatan Ibu Bahagia.

Proses menjadi ibu bahagia dan bangga

Tak selalu ada kata ‘mudah untuk menjadi ibu bahagia’. Semua adalah proses. Proses menjadi, dan selalu diawali dari kata MAU. Iya, semua berawal dari MAU. Perasaan bangga jadi ibu bisa dijadikan kunci untuk tetap enjoy menjadi ibu dan orangtua bagi anak-anak kita.

Kata gurundaku, For Things to Change I must Change First.

Mengubah diri sendiri bukanlah sejenis sulapan yang hanya butuh niat dan aksi. Ini sangat bergantung pada perubahan apa yang ingin dibuat. Jika perubahan nano, pastinya hanya butuh dua hal di atas. Jika perubahan makro, maka harus disertai dengan konsistensi sampai mencapai 30 aksi dan terus ditambah per 30 aksi.

Terkadang butuh 10 ribu aksi untuk menjadi ahli dari perubahan yang ingin kita capai. Namun jangan resah. Beberapa yang baru sampai pada aksi ke-30 sudah menjalaninya dengan 4E: Enjoy, Easy, Excellent, Earn.

Kalimat For Things to Change I must Change First begitu mengena di hati ketika pertama kali mendapatkannya. Teman-teman ‘satu bulu’ denganku pasti paham, siapa yang pertama kali menggaungkannya.

Benar. Beliau adalah Bu Septi Peni Wulandani

Selama mencoba memahami kalimat itu, aku mendapatkan banyak hal menarik. Salah satunya adalah komitmen BERUBAH yang kadang bersembunyi.

Contohnya aku menetapkan ingin mengubah kebiasaan jelek, yaitu mencuci sekaligus 20an kilo. Itu artinya aku mencuci baju seminggu 2 kali. Target berubah sesederhana ini, tapi aku masih gagal sampai sekarang.

Kunci mengubah diri sendiri

Tak mudah, ketika sudah menetapkan diri. Bahasa kerennya adalah membuat kurikulum perbaikan diri. Sudah dibuat lalu tiba-tiba malas mendera. Jika hal demikian terjadi, tak ada jalan lain selain mengeluarkan jurus …

OJO KALAH KARO WEGAH
Jangan kalah dengan malas.

Mudah? Eh siapa bilang? Beratnya bisa berton-ton. Lebay!

Okelah, kadang seringan bulu. Hehehehe. Balik lagi, sesuai dengan target perubahan. Jadi, semua selalu kembali ke sobat pembaca Catatan Ibu (Bahagia) yang Tak Sempurna. Agar selalu merasa bangga menjadi ibu.

Sampai jumpa di posting selanjutnya! Balik lagi sering-sering untuk baca pengalamanki jadi Ortu SerSan, ya. Apa tuh? Orangtua serius tapi santai…. penting banget agar bisa jadi ibu dan ortu yang selalu bahagia.

Tinggalkan komentar