Cara menjadi ibu yang bangga dan bahagia

Ahai, ketemu lagi di Catatan Ibu yang Tidak Sempurna namun selalu bahagia. Setelah sebelumnya menulis tentang bangga menjadi ibu, sekarang tentang proses menjadi ibu yang bangga dan bahagia dengan statusnya.

ibu bangga bahagia

Kalau baca dua artikel sebelumnya, pasti lebih paham dong, mengapa harus bangga menjadi ibu. Dan ini tu wajib banget-nget-nget-nget. Perasaan ini juga sangat membantu di saat ada prahara rumah tangga.

Prahara rumah tangga. Saat menyebut ini, auto ingat dengan sinetron. Hihihi

Mengapa ibu harus bangga dan bahagia?

Aku menulis ulang beberapa poin pentind dari artikel Mengapa Harus Jadi Ibu yang Bahagia, karena artikel ini adalah kelanjutannya.

Setelah tamat baca ini, sobat Catatan Susierna bisa langsung baca ke sana ya.

Perasaan bangga bisa didapatkan jika bangga selain memiliki arti besar hati juga berarti mengetahui bahwa dirinya memiliki keunggulan. Seseorang akan merasakannya jika ia tahu hal apa yang patut disyukuri. Ini juga bentuk pengakuan pada diri sendiri bahwa kita mampu. Bahwa kita hebat dalam suatu hal atau lebih.

Dengan perasaan bersyukur dari dalam seperti ini, maka prahara rumah tangga dalam bentuk apapun akan terasa lebih mudah dijalani. Puncaknya adalah rumah tangga menjadi langgeng dan senantiasa samawa. Sakinah, mawaddah warrahmah. Kita bisa mengempaskan risiko bercerai.

Cara menjadi ibu yang bangga dan bahagia

Menjadi ibu yang bangga dan bahagia dimulai dari mengenal diri sendiri. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri. Ini sangat membantu dalam mengembangkan diri.

Mengenal kekuatan diri berarti sobat bisa menonjolkan kekuatan untuk menyisasati kelemahan. Menyiasati beda dengan menyembunyikan.

Dengan demikian kita bisa menapaki hidup dengan bahagia. Ini akan membawa kita pada prestasi demi prestasi. Keberhasilan kita inilah yang menjadi api dari perasaan bangga. Namun perlu diingat bahwa merasa bangga juga harus diikuti dengan rasa syukur atas bantuan dan dukungan keluarga. Tanpa mereka, apakah prestasi itu dapat dicapai saat sekarang ini?

1. Menjadi diri sendiri

Be yourself selalu menjadi kunci dari segala hal. Apa yang kita capai saat ini adalah apa yang telah kita lalui takkan pernah sama dengan apa yang dialami oleh orang lain. Dua saudara kembar tak memiliki sifat yang 100% sama, bahkan sering menjadi kebalikan dari saudaranya.

Ini aku rasakan benar. Aku adalah anak kembar yang tak sama dengan adikku. Contoh ketika kecil aku tak pernah suka dengan matematika (sampai sekarang). Aku suka bahasa termasuk bahasa asing. Akhirnya kukejar sampai mendapat gelar S1 Pendidikan Bahasa Perancis.

Bagaimana dengan adikku? Ia sangat suka dengan matematika dan sulit belajar bahasa asing. Ia bukan penulis, tapi terlebih karena tak pernah membiasakan menulis.

Dalam hal wewangian juga. Sebagai contoh kecil saat aku punya 4 varian body shower dari Scarlett. Aku memintanya memilih dua untuk dibawa pulang. Surpris! Pilihan pertamanya adalah Freshy yang aku tak seberapa suka karena merasa bukan karakterku.

Freshy mengingatkanku pada wanita glamour sementara aku tak suka menjadi seperti itu. Pilihan kedua adalah pomegrenate yang beraroma segar buah. Aku suka tapi itu adalah pilihan ketiga. Aku lebih suka Joly yang beraroma vanila dan kopi serta varian Perfect Coffee.

Jadi… saat ia membawa pulang Freashy dan Pomegrenate, aku senang banget, dong, karena tiga hal:

  • Dibantu menghabiskan sabun yang menurutku terlalu banyak jumlahnya.
  • Bahagia memberi hadiah yang disukai penerima.
  • Aku makin tahu bahwa kami sudah mapan dengan karakter kami yang memang berbeda.

Jadilah dirimu sendiri, karena hanya kamu yang melewati setapak demi setapak jalan yang kamu pilih sendiri dan kamu selesaikan sendiri ujiannya. Mandiri membuatmu menjalani hidup dengan bahagia.

2. Evaluasi diri dengan bantuan orang lain

Setitik tahi lalat kecil di punggungmu takkan pernah kamu sadari tanpa bantuan orang lain. Bahkan bertitik-titik. Bahkan dengan bantuan cermin pun akan selalu ada blind spot.

Itulah sebabnya kita akan selalu membutuhkan orang lain dalam mengevaluasi diri. Agar semua sudut dapat terlihat.

Mengetahui segala hal tentang diri kita sangat membantu. Baik-buruk kita bisa melihatnya dalam beberapa sisi atau versi.

Cara ini bisa menjadi bumerang jika kamu tak pernah belajar memilah informasi. Jika kamu masih mudah larut dengan pendapat orang lain. Jika masih begini, maka batasi hanya evaluasi dari 2-3 orang yang paling dekat denganmu. Bandingkan hasil dari ketiganya dan ambil 3 saja untuk diperhatikan. Sisanya bisa diabaikan dulu.

Obyektivitas memang sangat penting karena dengan begini kamu bisa mengetahui kesalahan tanpa perasaan baper atau mengetahui kehebatan diri tanpa perasaan bangga yang berlebihan. Khawatir menjadi lupa diri dan sombong.

c. Meningkatkan skill yang paling disukai

Menjadi ibu tak pernah menghentikan siapapun untuk menjadi dirinya sendiri. Tak bisa menghalanginya berkarya. Tak bisa melemahkannya meski pekerjaan rumah tangga teramat sangat banyaknya.

Saat menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga pasti ada hal-hal yang menyenangkan, mudah dilakukan, dan bisa menghasilkan. Pilih satu, kembangkan terus sampai menjadi sempurna.

Aku memilih menulis. Maka aku sekarang menjalani kebahagiaan dan kebangganku sebagai penulis blog dan menerbitkan buku. Tak berhenti sampai situ, aku mengambil spesialisasi menjadi penulis sejarah perempuan dengan mengambil bimtek dan pelatihan yang tersedia. Ini termasuk skill baru yang berdasarkan skill lama. Di bawah akan aku jelaskan lebih banyak.

Ini mengingatkanku pada 4E yaitu 4E enjoy, easy, excellent, earn. Semua ibu harus tahu tentang ini sehingga bisa mengembangkan dirinya. Bisa mengupgrade dirinya.

Anak-anak suka bermain game online karena selalu ada pembaharuan. Jika ingin dekat dan disukai oleh anak, maka kembangkan diri ibu sedemikian rupa sehingga menjadi sosok yang dibutuhkan oleh anak.

Tentu masih ingat di saat anak masih usia dini. Ia menjadikan ibunya sebagai pusat segalanya. Menjadi perpustakaan berjalan. Menjadi dokter yang selalu siaga. Menjadi koki yang paling hebat di dunia.

Aku masih ingat, hanya memasak telur saja, si mbarep dengan mata berbinar mengatakan, “Maka koki paling hebat sedunia”.

Jadi, belajarlah kembali. Ambil satu skill yang punya potensi 4E. Berkembanglah di situ, dan bersinarlah bersamanya.

d. Belajar skill baru

Masa pandemi mengajarkanku untuk menjadi sosok yang adaptif. Yang sering menemukan kesempatan untuk belajar. Semua tersedia secara daring dan dapat diikuti secara daring.

Ketika mendapati sebuah kesempatan aku akan menimbang apakah ini bisa memberikan value tambahan bagi skill yang sedang aku kembangkan? Jika ia, aku akan mengambilnya. Dengan satu prasyarat yaitu memang bisa belajar.

Adakalanya kita mengambil suatu ilmu, workshop daring misalnya, tapi tak sempat praktik. Hanya karena penasaran saja. Sebenarnya cara ini tidak baik. Ada cedera yang berkaitan dengan pernghargaan kita terhadap ilmu tersebut dan pemateri yang menyampaikan.

Pemateri adalah guru, yang harusnya menerima rasa tulus kita dalam menyerap ilmunya. Jika kita belajar secara awur-awuran maka hasil belajar juga akan cepat kabur ke awam. Jika kita sungguh menghargai ilmu dan guru tersebut maka apa yang ia sampaikan akan membekas lama, bahkan sering menjadi solusi dari permasalahan kita.

Belajar skill baru sangat baik untuk membuat kita menjadi lebih bahagia. Jika menguasainya tentu akan timbul rasa bangga. Apalagi jika skill tersebut masuk dalam 4E yang kita pilih sendiri.

Aku suka menulis dan terbiasa menulis. Sudah masuk 4E. Alhamdulillah. Oleh karena aku peka terhadap apa yang terjadi pada perempuan aku lebih banyak menulis tentang perempuan. Daan… skill baru yang kupelajari dari situ adalah, belajar cara menulis sejarah secara akademis. Aku mendaftarkan diri dalam Bimtek Kesejarahan untuk Non-Sejarawan.

Apakah sudah 4E? Masih menapak ke sana. Sudah pernah menerima dana penelitian dan penulisan sejarah dari Direktorat Sejarah sebesar 50 juta dan sudah punya buku solo bertema sejarah.

Itu contoh saja agar apa yang aku tulis lebih menimbullan kepercayaan dari sobat pembaca Catatan Ibu (Bahagia) yang Tak Sempurna ini. Karena memang aku ingin semua perempuan tetap bangga dan bahagia menjadi perempuan meskipun tidak sempurna.

Kiranya cukup tiga saja dulu, cara menjadi ibu yang bangga dann bahagia. Lain waktu akan saya tulis tiga poin lainnya, yaitu:

  • Bersikap jujur pada diri sendiri dan keluarga.
  • Mendengarkan kata hati.
  • Menjalani keseharian dengan penuh syukur.
  • Menyadari dan memahami peran dalam kehidupan ini.

Sampai jumpa di Diary Ibu Bahagia lainnya ya!

1242 kata

Tinggalkan komentar