Ibu: Mencintai Tanpa Pamrih

Ibu mampu mencintai anaknya dalam kondisi apapun. Ia menerima apa adaya kondisi anak dan selalu ingin membahagiakannya. Ibu mencintai tanpa pamrih

cinta tanpa pamrih

Ini yang aku ingat saat mengenang ibu. Ini yang membuatku sering merasa rindu. Rindu sekaligus harap, agar beliau bisa menjadi penghuni jannah-Nya tanpa transit.

Aku menyadari hal ini ketika sudah agak lama menjadi ibu. Sebelumnya konsep ibu tanpa pamrih masih seperti hapalan dengan makna yang berbeda-beda sesuai kondisinya.

Ini adalah bagian dari catatan ibu yang tidak sempurna. Karena cinta berpamrih sempat memenangkan kontestasi. Sekarang aku lebih memahaminya daripada sebelumnya. Ketika aku menghapus harapanku kelak akan merawatku saat sudah renta. Aku teringat pada kalimat sobat narablog yang mengatakan, jangan menjadikan anak sebagai asuransi dan investasi.

Apa itu cinta tanpa pamrih?

Ketika mengingat kata cinta tanpa pamrih, peribahasa “cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang jalan” kerap muncul. Peribahasa ini bersifat tutur dan wewarah agar tetap menghormati ibu. Pasalnya, hidup memang tak selalu mudah dan salah paham antara anak dan ibu cukup kerap muncul di permukaan.

Kalimat ini jadi penguat saat anak melakukan hal-hal yang oleh orang lain akan disebut nakal. Betapa ibu berusaha mengunci lisannya agar kata nakal tidak keluar dari mulutnya.

Cinta tanpa pamrih memang punya arti mencintai tanpa syarat, dengan menerima apa adanya, bahkan dan rela berkorban demi membahagiakan orang tersebut. Masih juga ditambah tanpa mengharapkan balasan. Siapa yang dicintai sampai sedemikian rupa tentu saja orang yang dicintai. Lalu siapa yang mencintai sebesar, seluas dan sedalam itu?

Dalam dunia nyata, ibu yang tulus adalah jawabannya. Kata tulus memberikan penyempitan jumlah karena memang tak semua ibu punya ketulusan yang absolut.

Dalam dunia fiksi tentu saja akan ada karakter-karakter yang digambarkan sebagai sosok yang mencintai sesamanya tanpa pamrih. Mereka ini memiliki sifat kepahlawanan yang tinggi.

Karakter mencintai tanpa pamrih memang dekat dengan karakter kepahlawanan karena mereka biasanya rela berkorban. Ibu juga merupakan sosok pahlawan bagi keluarganya sendiri. Ibu adalah pelindung anak yang terbaik.

Cinta tanpa pamrih yang salah

Kali ini aku akan sedikit membalik keadaan. Sebagai pengingat saja, bagi para ibu agar bisa memaknai cinta tanpa pamrih pada anaknya dengan benar.

Cinta tanpa pamrih juga berarti mencintai diri sendiri serta menyiapkan masa depan diri sendiri. Banyak ibu dengan dalih mencintai anaknya lalu memanjakan anak sedemikian rupa. Atau memberikan segalanya bagi anak tanpa menyisakan untuk dirinya sendiri sebagai bekal hari tua.

Ibu semacam ini akan rawan menjadikan anak sebagai investasi dan asuransi masa depan. Dengan dalih ibu sudah mencintai anaknya all out sehingga layak mendapatkan penghargaan.

Paham, ya, Buk. Cinta tanpa pamrh juga harus memposisikan diri dengan tepat. Jangan menggunakan filosofi “lilin yang menerangi kegelapan dengan menghabiskan dirinya sendiri”.

Cintai anak, siapkan masa depannya, biarkan ia memilih, dan saat anak sudah siap terbang, bebaskan mereka. Bebaskan mereka tanpa beban menengok dirimu yang menuju sirna karena cinta tanpa pamrih yang salah.

Makna cinta tanpa pamrih

Cinta tanpa pamrih dalam bentuk yang paling sederhana adalah mencintai dan menghargai orang lain apa adanya, sebagai diri mereka sendiri, bahkan dengan ketaksempurnaan mereka. Terkadang perasaan ini muncul begitu saja, tanpa alasan. Bahkan meskipun yang dicintai tidak sempurna atau bahkan tidak mengakuinya.

Ibu adalah kandidat terbaik sebagai pemilik cinta yang suci ini. Ibu bisa menerima baik dan buruknya anak. Bisa tetap mencintai dengan tulus, ikhlas dan sabar. Dengan segala keterbatasan yang ada dalam dirinya, ibu akan tetap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tak heran jika dikatakan ridha Allah bergantung pada ridha ibu.

Unconditional Love. Kita bisa menyebutnya demikian. Perasaan ini tulus dan datang dari hati paling dalam.

Kapan cinta itu muncul?

Usai berpayah melahirkan, dengan tenaga yang nyaris terkuras habis, mata ibu akan berbinar-binar ketika pertama kali melihat anaknya. Bayi merah itu menjadi bayi yang paling indah di dunia.

Mata bayi sangat bercahaya. Sangat jernih. Sangat memikat. Setiap kali memandangnya, cinta dalam dada bertambah dan terus bertambah. Itulah kenangan pertama dan jawaban dari pertanyaan kapan cinta pertama kali muncul.

Cinta yang terus tumbuh dan menguat itu dapat bertahan selamanya. Apakah bisa terkikis? Tentu saja bisa, namun takkan semudah itu.

Mungkin ada contoh ibu yang tidak mencintai anaknya. Mungkin ada kisah ibu yang membenci anaknya. Itu hanya karena tersesat saja. Ia akan selalu kembali menemukan cinta itu dengan mudah.

Tinggalkan komentar