Ibu, Krisis Usia 35, dan Perasaan Ingin Dicintai

Hari ini aku dikejutkan dengan berita seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri. Ibu berinisial K ini membunuh dengan alasan karena mencintai anaknya.

Ini peristiiwa yang luar biasa. Beberapa tahun lalu ada ibu yang membunuh semua anaknya juga atas nama cinta pada anak. Sebenarnya ada apa dengan para ibu ini? Catatan Ibu yang Tak Sempurna ingin mencoba memberikan pandangannya tentang hal ini, karena sesuai dengan misinya yaitu ingin membuat para ibu merasa layak bahagia.

Sebelumnya, aku harus mengakui bahwa fakta ibu membunuh anaknya sendiri ini sangat mengejutkan. Apalagi karena mengingat isu kesehatan mental para ibu memang cukup sering muncul di permukaan.

Life begin at 35?

Ada satu fakta lagi selain atas nama cinta, yaitu usia pelakunya, yang berkisar pada angka 35. Ini sebuah angka yang memang sering jadi penanda. Ada saja yang menyatakan “my life begin at 35.” Tentu saja lebih familiar “my life begin at 40” karena pada usia ini memang tiba-tiba terasa punya tambahan kacamata untuk melihat suatu peristiwa.

Aku ingat, ada krisis yang terjadi pada saat menjelang usia 35 tahun. Bahkan saat 36 tahun krisis ini belum sirna sepenuhnya. Aku hampir kalah dengan keinginan untuk bercerai. Pasalnya adalah krisis ekonomi dan krisis kepercayaan diri.

Beberapa orang menyatakan my life begin at 35 sambil membeberkan capaiannya saat usia 35 tahun. Usia ini memang memunculkan krisis bagi pemilik usia karena konstruksi sosial di masyarakat memang menuntut capaian ekonomi dan jabatan di masyarakat. Jika tak berhasil, beberapa lidah jahat akan menyatakannya sebagai orang gagal.

Ini tidak terjadi di Indonesia atau Asia saja, bahkan di negara Barat yang maju. Ada sebuah survey di Inggris, yang diinisiasi oleh Bloomberg, temanya adalah “People Start Hating Their Jobs at Age 35”, hasilnya mengejutkan, karena pada usia ini para responden merasa tidak bahagia dengan posisi pekerjaannya sekarang karena meras gagal mendapatkan posisi idaman.

Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menganjurkan jangan menulis capaiann di usia 35 tahun karena rawan membuat orang baper, ya. Ini bukan tentang tulisan seperti itu atau konstruksi masyarakat, tapi lebih pada kesehatan mental orang yang membacanya. Bagi kita itu baik, baginya bisa jadi sebuah kekecewaan yang tanpa dasar.

Bahayanya himpitan ekonomi dan perasaan tidak dicintai

“Saya gak mau anak-anak sakit, hidup susah kayak saya. Saya ingin menyelamatkan anak saya biar gak hidup susah. Cara menyelamatkan mereka ya biar mereka mati,” ini ungkapan K dalam sebuah video yang dibuat setelah penangkapannya. Sulit untuk menangkap rasa sesal dalam ekspresinya, jika melihatnya dengan kacamata kuda.

Ibu berusia 35 tahun ini mungkin menjadi satu di antara sekian kasus depresi yang sangat sedikit muncul di permukaan. Seperti gunung es yang hanya tampak puncaknya saja.

Dalam sebuah artikel di SehatQ tentang keinginan membunuh kita akan menemukan ternyata tekanan mental bisa menjadi penyebab seseorang melakukan tindakan destruktif pada dirinya sendiri atau orang lain. Seperti mengkonfirmasi jawaban dokter di artike ini, pelaku pembunuhan juga mengakui dirinya trauma dan merasa tidak dicintai. Ia merasa terkurung. Bahkan pra tetangga juga mengakui bahwa si pelaku adalah orang yang pendiam dan tertutup.

Aku memahami bagaimana himpitan ekonomi yang terus menerus bisa mengikis kewarasan, Hidup dalam keadaan kesusahan, menghadapi rengekan anak, menghadapi suami yang gagal memuaskan kebutuhan, bahkan gagal menghadapi rengekan diri sendiri yang ingin ini itu.

Aku membayangkan bagaimana Mbak K ini memandang medsos dengan perasaan ingin seperti temannya. Ia seorang MUA yang pada masa pandemi ini menjadi sebuah bisnis yang sangat massif penetrasinya. Aku yang ibu rumah tangga biasa dan kurang bisa dandan selalu melihat iklan kosmetik dan how to make up, dan itu lumayan drive me crazy. Aku akan tersesat dalam e-commerce yang menawarkan produk make up dan tanpa sadar sudah memasukkan beberapa ke keranjang. Check out-nya? Jarang.

Itu aku dan diriku. Tapi bisa digunakan sebagai kacamata bagaimana keinginan bisa dirongrong oleh media sosial yang menjadi lokasi membentuk branding agar bisa mendapatkan cring-cring. Mbak K juga menggunakan medsos untuk membranding dirinya sebagai MUA.

Stalking media sosial dalam kondisi depresi bisa menciptakan aneka perasaan negatif yang bisa menjadi racun. Perasaan ini, jika mengingat curhatan teman di grup persahabatan, sangat dominan pada usia 35an tahun.

Semua perasaan ini masih diperberat dengan perasaan tidak dicintai. Perasaan sendirian menghadapi cobaan hidup. “Saya ingin menyelamatkan anak-anak saya biar enggak hidup susah. Enggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar enggak sedih kayak saya,” demikian alasan yang dikemukakan.

Dorongan untuk merusak diri atau orang lain

Kasus yang terjadi pada Mbak K ini mungkin berawal dari keinginannya untuk mengakhiri dirinya sendiri, namun tidak tega meninggalkan ketiga anaknya. Makanya ia membunuh anaknya terlebih dahulu baru menyusul kemudian. Namun ia tak setipe dengan Mbak A dari Bandung yang memilih ‘jalan bersih’ saat menghabisi anaknya pada tahun 2006 lalu. Atau Mbak D yang juga membunuh anaknya di tahun 2014. Preferensi ‘destruktif’ memang bisa berbeda karena frame of reference dan way of live mereka.
Ketiganya sama-sama ibu tiga anak yang mengalami depresi berkepanjangan akibat himpitan ekonomi. Saat mengatakan himpitan ekonomi, tiap keluarga memiliki batasan yang berbeda. Kesamaannya adalah perasaan tak berdaya karena gagal memenuhi kebutuhan paling mendasar dari anak yang ia lahirkan.
Aku bisa memahami bagaimana perasaan bersalah yang intens bisa menggerogoti kewarasan ketika seorang ibu merasa gagal menjaga amanahnya. Harapan ingin mereset atau mengulang dari awal bisa sangat kuat jika ia tidak segera menemukan titik terang di antara kegelapannya.
Camus dalam karyanya Shisypus secara tegas menyatakan bahwa keinginan bunuh diri sebenarnya adalah salah satu masalah falsafah yang benar-benar serius. Pelakunya akan melakukan beragam penilaian tak berimbang tentang nilai hidup dan kelayakan menjalani kehidupan yang sekarang. Menurut Camus, ini adalah pertanyaan dasar filsafat.
Kasus Mbak K, Mbak D maupun Mbak A bermuara dari krisis akibat tak mampu memenuhi standar masyarakat sehingga membuat mereka merasakan penderitaan yang amat sangat, rasa putus asa serta tidak berdaya, konflik antara hidup dan stres yang tak tertahankan, penyempitan dari pilihan jalan keluar yang dapat mereka lihat, serta keinginan untuk melarikan diri dari semua itu. Aku jadi ingat pendapat Email Durkheim yang memandang bunuh diri sebagai masalah sosial.
Bunuh diri secara personal, bisa terjadi karena orang merasa lebih bebas, keinginan untuk tidak mau tunduk pada aturan dan tabu perilaku tertentu, tidak ingin terlalu terikat oleh kebiasaan-kebiasaan dan konvensi-konvensi yang ada untuk memecahkan kesulitan hidupnya. Peristiwa bunuh diri adalah bentuk kegagalan seseorang dalam upayanya menyesuaikan diri terhadap tekanan-tekanan sosial dan tuntutan-tuntutan hidup

Ibu, kamu layak mencintai dan dicintai

Mengutip jawaban dr. Vina Liliana untuk seorang remaja putri yang menyatakan dirinya ingin membunuh dan bunuh diri, bahwa keinginan tersebut bukanlah hal wajar dan harus segera mendapat penanganan dari ahlinya. Menurutnya, dorongan untuk mencelakai orang lain atau bunuh diri bisa disebabkan:

  • Faktor trauma di masa kecil. Adanya trauma di masa lalu dapat membekas dan terbawa hingga dewasa.
  • Depresi. Beban hidup yang berat dan tidak mampu berbagi dengan orang lain akan menimbulkan kecemasan dan rasa depresi seperti merasa dirinya tidak berguna, dan tidak ada gunanya hidup di dunia ini. Dalam tahap akhir bisa sampai terbesit pikiran untuk bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya.
  • Adanya dendam yang terpendam.
  • Tontonan yang tanpa disadari ingin diikuti dan ditiru.

Meskipun penanya tersebut masih remaja, namun jawaban ini juga bisa diberikan pada orang yang usianya sudah matang seperti 3 perempuan yang sedang aku bahas ini. 4 faktor di atas bisa memicu keinginan merusak yang amat sangat kuat. Mereka membunuh anak dengan mengatasnamakan cinta, karena tidak ingin anak mereka akan mengalami depresi dan kekecewaan berkepanjangan yang menyiksa.

Trio ibu ini memandang dunia terlalu kejam, sehingga jika ia sebagai orang yang lebih beruntung saja hidup sesulit itu. Ia mengalami paranoia atau ketakutan berlebihan karena membayangkan masa depan kelam anaknya, padahal itu hanyalah pemikiran liar yang terlalu dibebaskan.

Bagaimana cara mencegah keinginan bunuh diri dengan mengajak buah hati yang mereka cintai, sehingga tak rela meninggalkan mereka di dunia yang ia anggp kejam ini?

Sementara yang dapat dilakukan agar pikiran tersebut tidak muncul terus menerus adalah :

  • Berusaha berpikir positif, dan mencoba menyelesaikan masalah yang ada.
  • Berbagi cerita dengan orang lain.
  • Perbanyak kegiatan sehingga pikiran tidak melayang-layang.
  • Olahraga secara teratur untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.
  • Melakukan konseling dengan psikiater terdekat.


Konseling dengan psikiater terdekat dapat membantu menangangi masalah dengan lebi baik, sehingga tidak selalu berpikir untuk mencelakai orang lain atau diri sendiri.

Aku perlu menambahkan lagi karena ini berkaitan dengan status ibu sebagai pelindung dan pemilik cinta tanpa pamrih. Penting sekali bagi kita para ibu untuk memilih jalan bahagiia dalam menjalani kehidupan.

Aku bahkan berani membuat ajakan agar para ibu bisa mengembangkan rasa bangga karena dirinya telah terpilih sebagai orang yang diberi amanah dan ladang pahala. Bahwa dalam prosesnya ibu harus menghargai setiap capaian yang ia buat, bahkan meskipun sangat ringan seperti bisa memasak nasi tanpa gosong.

Jika setiap keberhasilan kecil dirayakan dengan perasaan bahagia dan bangga, maka racun mematikan yang memakan hati Mbak K, D dan A takkan dapat melukai kita. Harapanku tentu saja, tulisan ini banyak dibaca oleh semua perempuan yang diam-diam menyimpan racun hati berupa rasa kecewa dan depresi berkepanjangan yang memiliki katalisator berupa himpitan ekonomi.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya Bu… Jangan biarkan dirimu terlalu lama sendirian. Mulailah buka hati dan matamu untuk percaya bahwa di luar sana ada sahabat terbaik yang memang diciptakan untukmu. Sahabat ini menanti ditemukn.

14 pemikiran pada “Ibu, Krisis Usia 35, dan Perasaan Ingin Dicintai”

  1. Sedih ya sebenarnya banyak sebab sedari lama memendam kekecewaan dari keluarga trs ditambah lagi oleh pasangan dn kluarga nya akhirnya numpuk… Ya perlu bangt punya temen intinya sekedar berbagi dn ada yg mendengar

    Balas
  2. Yaampun tulisan yang begitu dalam mbak, sekaligus motivtasi baik yang sudah berusia 35 maupun yang belum 35. Semoga kita semua bisa menjadi perempuan kuat, tangguh, dan tetap dalam kebahagiaan. Meskipun memang tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Terima kasih mbak atas artikel yang berisi ini.

    Balas
  3. saya setuju sekali dengan tulisan nya mba. inilah contoh nyata bahwa mental health itu penting. kita orang indonesia terbiasa memang kesehatan mental itu hal yang tidak penting. yg terjadi dengan mba K itu sebenarnya banyak terjadi diluaran sana hanya tidak terekspose saja. Terkadang masalah mental health ini yg dialami K bukan hanya dari segi finansial belaka seperti yg dimuat didalam artikel2 media masa lainnya. Tapi saya pribadi melihat kurangnya support dari keluarga besar (ibu,bapak, adek, kakak, abang, mertua, ipar, dll).
    Inilah kenapa menikah muda ataupun menikah dengan berlandaskan cinta tanpa melihat kesehatan mental dan kesehatan finansial itu bahaya. Semoga kita semua dan terutama pemerintah bisa melihat ini sebagai fenomena yang memberikan pembelajaran dan pembenahan.

    Balas
  4. Prihatin dengan kasus yang disebutkan di sini.
    Sebagai sesama perempuan semoga kita bsia saling menguatkan paling tidak dari lingkaran terdekat karean support system yang baik akan membantu permasalahan terkait rumah tangga, krisis kepercayaan diri dan lainnya. Perasaan ingin dicintai memang hal dasar yang dimiliki manusia, siapapun dia.

    Balas
  5. Serem juga ya mba. aku juga bentar lagi masuk usia itu, tapi pernah denger temen yang seumuran sama aku kena depresi jugan padahal kalau liat pekerjaannya ya mapan dan sudah punya rumah juga. Memang ada tekanan ekonomi dan nggak bisa cerita ke orang lain bikin jadi gampang stress ya. Semoga semua perempuan dikuatkan oleh orang sekelilingnya.

    Balas
  6. Aku juga shock lho pas baca beritanya, rasanya sedih tapi nggak bisa salahin si ibu jugaa, mentalnya pasti lagi sakit. Tapi seharusnya suaminya memperhatikan dia disaat mentalnya tidak stabil begitu.

    Balas
  7. Banyak ornag orang disekitar atau orang-orang terdekat mengabaikan mental health ini. padahal yan g mengalaminya sudha berusaha sekuat tenaga untuk waras. Tak akan ada seorang ibu yang mau menyakiti anaknya. Orang-orang sekitar harus memiliki empati tinggi. tetapi budaya bully dari usia anak-anak sampai dewasa sudha dianggap biasa. berbahagialah ibu-ibu agar anakmu ikut bahagia.

    Balas
  8. Kita memang butuh uang dan berbagai materi yang mencukupi kebutuhan dan keinginan. Tapi kita juga butuh dicintai, disayangi, dihormati dan sebagainya. Ini mungkin hal2 yang tak diperoleh oleh si Ibu K tersebut dari keluarga sejak kecil maupun sang suami. Ah, nelangsa sekali peristiwa ini membuat shock masyarakat seluruh bumi 🙁 Sedih.

    Balas
  9. Deep articel. Saya suka tulisannya. Mengulas sebuah berita dengan sangat apik ditambah opini dan saran yang serius. Dibumbui dengan falsafah dari para pakar. Jadi seru bacanya. Gue banget pokoknya.

    Selain itu, terkait mbak K, saya sangat memahami kondisi dia, yang sangat luar biasa banyak tekanan. Terkadang kita musti paham juga, bahwa penderitaan di dunia akan musnah, jika kita punya kesehatan mental dan dekat dengan Tuhan. Tuhan akan memberi beribu cara dalam menyelesaikan persoalan kita di dunia. Ketika kita patuh terhadapNya dan tabah.

    Balas
  10. kadang kasus pembunuhan anak-anak oleh ibu kandungnya sendiri itu di luar logika. entah mengapa seorang wanita kalo sudah depresi atau stress berat justru pelampiasanya terlalu tega dengan orang dekat entah suami atau anak-anak. Padahal jika dikomunikasikan masih bisa, mungkin lewat psikolog atau dokter umum atau siapapun yang bisa diajak curhat si, menurutku,

    Balas
  11. kalau ada ibu yang merasa seperti ini, langsung konsultasi aja deh mba.. soalnya menurutku sudah butuh bantuan. pasti ada sesuatu yang membuat ibu berpikiran kayak gitu, mungkin kelelahan fisik atau batin dan tekanan2 lainnya. semoga sehat selalu ya

    Balas

Tinggalkan komentar