Memahami Kodrat Perempuan

Lamaaaa tidak menulis di sini. Kangen juga rasanya. Apakah ada yang kangen dengan tulisan saya tentang cara menjadi ibu yang berbahagia?

April sudah lama berlalu. Di bulan ini, saya sering menemukan pertentangan tentang perempuan dan dunia patriarki. Suka aja keluar masiuk bacaan seputar ini.

Mau tidak mau, dua topik di atas memang akan selalu enak aja dibahas. Bahkan sejak sebelum masehi alias sejak dulu, dulu, dulu, dulu sekali.

Kodrat perempuan

Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Allah. Manusia tidak dapat mengubah ini kodrat bersifat universal, jika suatu kaum dinyatakan punya itu maka semuanya punya. Contohnya adalah kodrat kaum perempuann, yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.

Hal-hal di atas tidak bisa dipindahtangankan kepada laki-laki. Kaum laki-laki tidak memilikinya.

Namun dalam masyarakat telah lama berkembang bias gender yang sangat parah. Masyarakat mengganggap bahwa kodrat perempuan adalah manak, macak, dan masak.

Manak memang benar kodrat perempuan. Artinya hamil dan melahirkan anak. Macak atau mempercantik diri dan masak atau menyiapkan makanan keluarga bukanlah kodrat. Itu adalah pekerjaan domestik yang dilakukan secara sukarela. Jika istri tidak sanggup melakukan semuanya sendiri, maka suami harus membantunya. Lagian pekerjaan rumah memang pekerjaan bersama suami istri.

Jadi para suami, jelilah memilih istri. Cari yang sesuai dengan ekspektasimu.

Salah kaprah tentang kodrat

Ada satu anggapan, kodrat seorang perempuan jika sudah menjadi istri adalah patuh pada suami, dengan ancaman swarga nunut neraka katut. Suami juga diberi stigma juga tentang kodratnya. Dikatakan, kodrat laki-laki adalah melakukan aktivitas yang produktif (mencari nafkah) untuk keluarganya.

Lebih jauh dikatakan, “Kodrat lelaki ialah menjadi seorang pemimpin yang bijaksana bagi diri sendiri maupun keluarganya. – Melindungi pasangannya ataupun keluarga. – Memiliki fisik yang lebih kuat dibandingkan wanita.”

Agar tidak timpang, dikatakan, “(Istri bertanggung jawab terhadap rumah suaminya), yaitu dengan berusaha mengurus urusan rumah tangga dengan baik, serta berkomitmen untuk melayani keperluan suaminya serta tamu-tamu dari suaminya. (Dan anak-anak suaminya) dengan mendidiknya dan berkomitmen untuk mengurusnya.”

Ini adalah salah satu salah kaprah yang terjadi selama berabad-abad. Itu semua disebut sebagai peran gender. Gender tidak sama dengan kodrat.

Manusia laki-laki dan perempuan diciptakan Allah sepadan atau sederajat. Manusia diciptakan Allah agar manusia mau dan mampu mengenal, melayani dan mengasihi Allah melalui segala ciptaannya. … Tujuan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan berbeda adalah supaya manusia dapat saling melengkapi. Termasuk saling melengkapi peran mereka,

Pekerjaan rumah tangga dan perawatan keluarga tidak berjenis kelamin. Maksudnya, hal tersebut adalah tugas suami dan istri yang pembagiannya wajib adil.

Perempuan menjadi pemimpin

‘Kodrat perempuan adalah menjadi ibu’ merupakan konsepsi keliru mengenai peran perempuan dalam masyarakat. Namun demikian, tetap ada perempuan-perempuan hebat yang mampu memiliki karier bagus.

Pada kenyataannya, para perempuan tangguh ini menghadapi dua medan perang sekaligus, dan keduanya wajib dimenangkan.
Perempuan menjadi pemimpin bukanlah hal yang baru. Apalagi sekarang ini. Namun pernahkan kita menanyakan penderitaan semacam apa yang mereka tanggung. Dalam perjuangan karier maupun saat menjadi pemimpin, tak jarang, di tengah kepayahan itu, pemimpinn kerap dihakimi dan dikatakan menyalahi kodrat perempuan karena tidak diam di rumah saja mengurus anak dan rumah.

Semoga tulisan ini sedikit mengurai tanya tentang perempuan dan kodratnya. Memahami ini memang bisa membuat perempuan, istri, ibu, lebih ringan dalam menjalani keseharian. Jadi lebih bahagia karena menemukan secercah pemahaman bahwa tugas rutin itu bukan beban, tapi bentuk cinta pada keluarga.

Tinggalkan komentar