Mengapa Harus Bangga Menjadi Ibu?

Ada seorang teman yang bertanya, mengapa harus bangga menjadi ibu? Bukankah itu adalah hal yang sangat normal?

Oh sobat, melahirkan adalah satu dari sekian banyak hal yang dapat membuat seorang perempuan merasa bangga pada dirinya. Perasaan ini mutlak selalu dihadirkan karena tugas perempuan yang sudah jadi ibu itu luar biasa banyaknya.

mengapa-bangga-menjadi-ibu

Sobat pembaca Catatan Ibu yang Tak Sempurna…. blog ini hadir sebagai bentuk dari hasil healing-ku selama ini. Aku pernah muda dan mengejar kesempurnaan yang bisa dikatakan imajiner.

Aku dari keluarga yang tak berpunya dan menjalani kehidupan yang sangat biasa. Mengurangi tidur dan makan demi mencukupkan rezeki, namun ingin hidup yang sempurna? Oh, itu seperti hidup di alam khayali!

Dari hasil nerimo, legowo, dan terus adaptif dengan kondisi rumah tangga, aku bisa mencapai sekarang ini, yaitu perasaan bangga menjadi ibu, meskipun jauh dari sempurna. Aku masih marah jika situasinya memang mengharuskan begitu. Aku kadang masih menangis saat hatiku luka atau anakku melakukan hal yang mengecewakan…

Tapi aku bisa dengan cepat bangkit kembali. Tak ada alasan untuk cepat menyerah. Tak ada keharusah menjalanin hidup sempurna. Bahkan hidup sederhana malah menjadi makin bahagia.

Apa yang dimaksud dengan bangga?

Oh, aku akan memulai dari yang paling dasar, yaitu definisi. Kata bangga kadang menjadi dinegatifkan sebagai kesombongan jika salah bicara. Percaya saja, kadang kita akan menemukan orang yang negatif saja bawaannya.

Aku bangga menjadi ibu. Itu sudah pasti. Dan aku menemukan arti ‘bangga’ di KBBI, yaitu besar hati; merasa gagah (karena mempunyai keunggulan).

Bisa dilihat dari artinya, kan, kalau perasaan bangga bisa didapatkan jika bangga selain memiliki arti besar hati juga berarti mengetahui bahwa dirinya memiliki keunggulan. Seseorang akan merasakannya jika ia tahu hal apa yang patut disyukuri. Ini juga bentuk pengakuan pada diri sendiri bahwa kita mampu. Bahwa kita hebat dalam suatu hal atau lebih.

Pada umumnya kita akan makin berprestasi jika kebanggaan itu mendapat pengakuan luas. Ini boleh juga sepanjang tidak membuat kita menjadi lupa diri.

Tesaurus Bahasa Indonesia punya sinonim kata ‘bangga’ yang lebih kaya, yaitu senang, aman, bahagia, berbunga-bunga, berkenan.

Jadi, apakah kamu mau menjadi ibu yang bangga pada dirinya sendiri?

Mengapa harus bangga menjadi ibu?

Secara alami, setiap perempuan adalah makhluk yang penuh kasih, baik, simpatik, dan sabar. Ini sifat dasar perempuan. Sifat feminin, kalau menyangkut gender dan studi perempuan.

Sifat alami di atas akan lebih terasah saat perempuan menjadi ibu. Masih ada lagi karakter sejati perempuan, yaitu lebih peka terhadap rasa sakit yang diderita orang lain dan ia tidak segan-segan untuk memberikan bantuan.

Sifat bangga bisa dikatakan sebagai bagian dari sisi maskulin. Perempuan harus punya sisi maskulin agar dirinya menjadi lengkap. Agar tidak menjadi korban keadaan. Karakter feminin dan maskulin harus berpadu dengan baik.

Salah besar jika memisahkan dua karakter di atas. Itu adalah parenting model kuno yang harusnya sudah diganti dengan yang lebih peka zaman. Contohnya, laki-laki perlu karakter feminin agar ia menjadi lelaki utuh, misalnya boleh sedih jika kehilangan sesuatu, bahkan boleh menangis.

Jangan seperti polah asuh di masa kuno yang manyatakan, “Cis, anak laki-laki kok menangis, seperti anak perempuan.”

Kalimat di atas sering diucapkan pada anak laki-laki yang dari lahir sampai dewasa saat kedapatan merasa sedih. Maksudnya agar ia dapat menahan dan menghilangkan dengan segera perasaan negatif yang sedang menguasainya.

Dapat mencegah perceraian

Bangga pada diri sendiri sebagai ibu secara positif akan membuatmu tetap menghargai atau memotivasi orang lain untuk menjadi lebih baik. Memptivasimu agar cepat dan adaptif terhadap apapun yang terjadi dalam rumah tangga.

Ini juga sangat membantu saat kamu ditimpa masalah. Perasaan bangga pada diri sendiri karena menjadi ibu akan menahanmu dari kesalahan memilih yang sering terjadi, sehingga berakhir dengan perceraian.

Akhirnya kita sampai pada poin utama, mengapa harus bangga menjadi ibu. Yuhui, karena perasaan ini akan membuatmu menjalani rumah tangga dengan bahagia dan mencegah perceraian.

Alasan perceraian sudah terkotak antara nafkah dan KDRT, namun pusatnya adalah perasaan keduanya yang menyangkut rasa bahagia, nyaman, dan menerima. Perasaan ini mengalami pasang surut. Rasa bangga bisa menjadi api yang selalu mengingatkan kita pada perjuangan mengarungi hidup rumah tangga.

Jadi, apakah kamu sudah bangga karena menjadi seorang ibu? Kalau sobat Catatan Ibu yang Tak Sempurna ingin membaca opiniku lagi tentang bagaimana menjadi ibu yang banga dan bahagia, bisa baca diary saja. Meski namanya diary tapi bukan curcol yang tanpa arti.

Tinggalkan komentar