Tak Ada Anak Nakal, Hanya Anak yang Belum Tahu Saja

Senangnya menjadi orangtua. Menjadi seorang ibu. Senang di hati, meski kadang mungkin terlalu melelahkan. Anak membuat kacau rumah, atau menangis kejer. Anehnya, makin kita bereaksi negatif, makin berulah pula si anak. Inilah mengapa aku menulis tentang Tak Ada Anak Nakal, Hanya Anak yang Belum Tahu Saja.

Masih bahagia menjadi orangtua, Bu? Seharusnya sih masih, ya. Coba bayangkan sepinya keluarga tanpa anak. Ini bisa memberikan kekuatan tersendiri saat sedang merasa capek sekali.

Aku berusaha selalu mengingatkan diri sendiri bahwa tak ada anak yang nakal. Mereka hanya belum tahu saja. Bahkan jika usia anak sudah remaja, ia tetap bukan anak nakal. Ia hanya kebetulan salah asuhan saja. Orangtuanya belum berhasil membuat anak menjadi pribadi yang diharapkan.

Jangan merengut dulu. Justru catatan ibu yang tidak sempurna bisa membantumu untuk mengingat kembali tentang apa saja kesalahan pengasuhan yang sudah telanjur terjadi. Lalu kita benerin bersama.

Aku ada sebuah ilustrasi kecil….

Minggu pagi itu Andi duduk terpekur di depan mainannya. Tangannya memajumundurkan mobil lego yang paling disukai. Matanya tidak fokus ke mainan. Dia seakan tidak berada di situ.

Andi biasanya bermain sambil berceloteh; seakan sedang piknik ke suatu kota. Atau sambil bermain pura-pura, seperti saat diajak berlibur ke waterboom favoritnya di Jepara. Pagi ini, Andi lebih diam dari biasanya.

Hasna, sang ibu, sesekali menengok Andi yang sedang bermain. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Menu hari ini juga masih menunggu dipegang. Wortel yang baru terpotong separuh belum bisa diteruskan.

Rita, anak batitanya baru saja berhenti menangis ketika kakinya terluka oleh pecahan beling. Setelah dibujuk 30 menit, ia terlelap.

Hasna masih harus membersihkan “kekacauan” yang dibuat Andi pagi itu. Entah apa yang membuat anak laki-laki berusia 5 tahun itu tiba-tiba ingin membuat kopi dan susu untuk keluarga.

Bisa apa dia? Pikir Hasna. Ada-ada saja. Malah menyusahkan. Ada saja kerepotan yang diperbuatnya. Tiada hari tanpa dibuat jengkel, karena ada saja yang dilakukan Andi. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi.

Tak jarang Andi membuat mereka terharu, karena tiba-tiba menyiram tanaman tanpa diminta. Tapi ia juga pernah membuat ayahnya murka Karena Andi menyiram tambulampot sawo dengan susu jatah paginya. Alasannya, agar sawo cepat berbuah.

Pernahkah peristiwa seperti ini terjadi di rumah? Anak kecil kita tiba-tiba ingin membuat minuman namun malah mengotori dapur. Susu dan gula tumpah ke mana-mana.

Atau malah seperti Andi yang pagi itu ingin membuat kopi. Saat mengisi air panas, tangannya terkena dan gelas kopi lepas. Beling gelas beserta isinya berantakan di lantai, mengenai kaki si anak.

Masih terkaget oleh suara gelas pecah dan teriakan mengaduh Andi, tiba-tiba Rita, adiknya, menangis kejer karena kakinya terkena beling. Kekagetan Hasna berubah menjadi reaksi murka. 5 tahun dan bikin kopi?

INI PASTI MENIRU SI AYAH! Lalu, suami yang masih asyik mencuci kendaraan di depan rumah juga ikut disalahkan. Lebih parahnya lagi, sudah lama kedua orangtua Andi melabelinya sebagai ANAK NAKAL.

Jika saja Hasna tidak bereaksi buruk dan mau bertanya, mungkin ia akan sangat terharu. Pagi itu, Andi ingin membantu ibunya membuatkan kopi untuk ayah. Ia juga sudah membuat susu hangat untuk dirinya dan Rita. Ia ingin membantu ibunya, namun baru tahu jika air dispenser yang biasa dipakai ayah ibu membuat kopi ternyata sangat panas. Namun keinginannya itu malah membuat ayah ibunya sangat murka, dan lebih buruk lagi, Rita terluka.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua sering disibukkan dengan pekerjaan harian yang terasa berputar, tak pernah habis. Tak jarang orangtua merasa terjebak dengan kewajibannya. Ia tidak bangga menjadi orangtua. Maka, tanpa sadar, ia mengkerdilkan potensi anaknya dengan bereaksi spontan seperti Hasna di atas.

Pertanyaannya, apakah Andi nakal? Apakah ayah salah? Apakah Hasna keterlaluan?

Tentu saja tidak. Andi adalah anak yang baik, bersimpati, dan ingin memberi “hadiah” pada yang ia sayangi.

Hasna hanyalah ibu yang sedang kelelahan. Dan ini adalah hal yang wajar. Ketika kelelahan, seorang ibu bisa bisa sekreatif Hasna dan membawa-bawa suami sebagai kambing hitam Biasanya kalau seperti ini, komunikasi suami istri yang tidak bagus.

Komunikasi memang kunci berumah tangga. Makanya harus dilakukan terus-menerus.

Tinggalkan komentar