Waspadai Sakit Mata di Masa Pancaroba

Sudah memasuki masa pancaroba. Biasanya beberapa macam penyakit endemik akan muncul di masyarakat. Personal hiegyne masyarakat kita secara umum memang masih belum bagus. Bahkan sudah “ditraining” di masa Corona juga tak banyak perubahan. Salah satu buktinya adalah merebaknya penyakit mata.

Saat ini saya terpaksa sedikit mengetatkan anak. Wabah sakit mata sedang merebak di sini. Saya tidak yakin anak sudah terbiasa untuk tidak memegang area mata sembarangan. Ini salah satu bentuk Personal hiegyne yang saya nyatakan di atas.

Jangan biasakan kucek mata!

Pasti ingatlah, anjuran pertama saat Corona sampai di Indonesia adalah mengurangi kebiasaan memegang area wajah, terutama area yang berair dan berlubang. Apa itu? Tentu saja mata, mulut dan hidung. Anak belum patuh pada ini. Tapi mereka juga tidak sendiri. Banyak yang begitu. Padahal sedang ada wabah sakit mata, kan?

Beberapa hari lalu ada yang bertanya apakah benar kita akan tertular saat memandang mata orang yang sakit?

Jawabannya tentu saja tidak. Penularan penyakit mata itu:

Dari mata turun ke tangan, dari tangan naik ke mata. Ketularan, deh!

Makanya jangan biasakan kucek mata, ya.

Orang yang sakit mata biasanya merasa tidak nyaman sehingga otomatis pegang-pegang mata. Meski tidak sampai mengucek, namun virus mata sudah menempel ke tangan yang digunakan untuk memegang. Apapun yang disentuh tangan si sakit tersebut bisa saja dipegang seseorang pada jarak waktu berdekatan sehingga menularkan penyakit mata tersebut. Inilah salah satu penyebab wabah sakit mata merebak di masa pancaroba ini.

Jaga kesehatan bisa atasi sakit mata

Clichee sekali, ya. Pesannya selalu saja jaga kesehatan. Perbaiki imunitas tubuh. Ini sih pesannya si Dewa Alam berkali-kali. Waspadai demam juga.

Memang benar sekali kok saran itu. Sakit mata bisa sembuh sendiri tanpa menggunakan obat. Biasanya pasien memang akan sembuh dalam 3-4 hari, maksimal 2 minggu. Tergantung pada kesehatan dan imunitasnya. Juga kemauannya beristirahat. Wabah sakit mata akan segera berlalu…

Biasanya saat sakit mata, para penderita akan membeli obat di apotik. Kebanyakan ya. Memang jarang yang ke dokter. Sakit mata dianggap sakit yang tidak berbahaya.

Ungkapan sakit mata tidak bahaya masih bisa dibenarkan, namun sembarangan meneteskan mata malah bisa jadi bahaya. Pasalnya, apotek cenderung memberi obat-obat yang punya kandungan steroid atau antibitoik yang mengandung steroid.

Obat jenis ini bisa punya efek samping berupa glukoma sampai katarak jika dipakai berulang-ulang dan tanpa resep dokter.

Jadi sebenarnya cara mengatasi wabah sakit mata di masa pancaroba gini hanya perlu dua hal yaitu jangan kucek mata dan jaga kesehatan.

Gejala dan Cara Penularan Sakit Mata Menular

Sudah jaga kesehatan berarti sudah punya modal besar untuk menghindarkan diri dari sakit mata. Bisa memutus rantai penyebaran wabah sakit mata.

Meski demikian perlu juga kiranya, mengenali beberapa gejala sakit mata menular, yaitu:

  • Mata merah dan bengkak
  • Mata terasa sakit, gatal, dan berair
  • Mata terasa seperti berpasir
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Muncul benjolan kecil di kelopak mata atau di dekat bulu mata
  • Penglihatan terganggu atau pandangan kabur
  • Kelopak mata terasa nyeri saat disentuh

Jika sudah tahu semua gejala di atas, tentu lebih mudah juga penanganannya. Namun yang paling penting adalah bagaimana caranya agar tidak menulari orang lain. Tidak tertular juga.

Penularan sakit mata tak jauh dari kontak fisik. Bisa kontak fisik secara langsung atau tidak langsung. Yang terakhir itu biasanya melalui media yang berada di dekat penderita.

Berikut beberapa cara penularan wabah sakit mata, yaitu:

Melakukan kontak fisik dengan penderita sakit mata menular atau besentuhan langsung dengan tetesan nanah atau air mata penderita
Menyentuh benda yang terkontaminasi virus atau bakteri lalu menyentuh mata
Berdekatan dengan penderita sakit mata menular
Berbagi penggunaan benda pribadi dengan penderita sakit mata menular, seperti handuk, bulu mata palsu, kosmetik, atau kacamata

Oleh karena masa pancaroba memang membawa banyak perubahan, maka bisa dimaklumi juga jika disertai dengan beberapa penyakit khas. Memang cukup mengesalkan karena selalu berulang-ulang. Waspada saja… Ingat untuk jangan kucek mata dan jaga kesehatan!

Tinggalkan komentar